Pengusaha & Kementan Diminta Tingkatkan Kualitas dan Kampanye Buah Lokal

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Senin, 02 Nov 2020 19:27 WIB
Buah tropis
Foto: shutterstock
Jakarta -

Di tengah melemahnya ekonomi nasional akibat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, permintaan subsektor pertanian pada komoditas hortikultura seperti sayur dan buah segar justru mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS, tren produksi buah-buahan lokal pada kurun waktu 4 tahun terkonfirmasi meningkat cukup signifikan.

Pada 2019, misalnya, produksi buah-buahan lokal mencapai 22,5 juta ton atau naik 4,8% jika dibanding 2018. Bahkan buah-buahan tahunan menjadi komoditas terbesar ketiga setelah kopi dan tanaman obat. Nilai ekspornya kurang lebih mencapai US$ 140.228,90.

Mengenai hal ini, Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Riyanto menilai peningkatan kualitas buah perlu mendapat perhatian khusus dari semua pihak, termasuk dari kalangan pengusaha dalam mendorong peningkatan eskpor buah lokal.

"Kuncinya ada pada peningkatan kualitas buah lokal kita serta semua orang harus terus mengkampanyekan makan buah Nusantara," kata Riyanto dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2020).

Perlu diketahui, sejak 2006 Kementan fokus melakukan pengembangan buah-buahan unggul di seluruh daerah. Kegiatan ini meliputi pengembangan kawasan dan pendampingan penerapan budidaya sesuai dengan kaidah GAP/SOP. Di samping itu, Kementan juga terus memfasilitasi para petani dengan sarana prasarana pascapanen hingga proses pengolahan dan pemasaran.

Pengamat pangan sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Sujarwo mengatakan langkah pemerintah sudah cukup bagus dalam mengembangkan potensi buah dan sayur lokal.

Namun, lanjutnya, pemerintah harus membuka informasi dan promosi buah segar secara luas. Langkah ini penting dilakukan agar masyarakat memiliki geliat tanam serta pengetahuan lebih pada subsektor sayur dan buah segar.

Apalagi, imbuhnya, persepsi masyarakat tentang pengetahuan buah lokal sejauh ini masih kurang baik. Oleh karena itu, branding buah lokal sangat penting dilakukan untuk menunjang kejelasan fungsi bagi kesehatan, sehingga mengarah pada functional food. Tentunya dengan positioning yang baik dan terkoneksi dengan aspek kesehatan.

"Pandemi COVID-19 ini sebenarya momentum untuk Kementerian Pertanian (Kementan) agar terus menyuarakan buah-buahan lokal dan mem-branding-nya lebih bergengsi," katanya.

Sujarwo menilai riset-riset tentang manfaat buah lokal dan juga promosi atas kegunaannya makin tergerus oleh promosi dan budaya pembenar (affirmative culture). Sehingga masyarakat masih berpikiran buah impor lebih bagus dari buah lokal.

"Kita tidak akan dapat meningkatkan citra produk lokal, seperti buah, selama kita tidak menghargai produk lokal kita sendiri dengan baik," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian Liferdi Lukman mengatakan peluang bisnis buah dan sayur lokal masih tergolong tinggi, terutama di pasar lokal bahkan internasional.

Saat ini, kata Liferdi, buah-buahan yang mengalami lonjakan permintaan di antaranya jambu biji, jeruk lemon dan alpukat. Hal ini dikarenakan buah-buahan tersebut dikenal kaya serat, vitamin C,E, dan antioksidan.

"Buah-buahan tersebut banyak diproduksi oleh petani-petani kita dan penjualan buah hingga kini masih tinggi. Pastinya akan dapat membantu para petani di tengah kondisi sekarang ini," tutupnya.

(mul/ega)