Alumni Ngruki Akan Perjuangkan Terbentuknya Negara Aman
Minggu, 22 Jan 2006 16:30 WIB
Solo - Temu alumni Ngruki merumuskan tujuh poin yang mereka sebut sebagai 'Deklarasi Ngruki'. Salah satu poin menyatakan bahwa para alumni akan menggandeng sejumlahelemen Islam demi terbentuknya sebuah kawasan atau wilayah aman, terutama di Indonesia.Ketujuh poin itu dibacakan oleh seluruh alumni yang hadir sebelum pentupan temu alumni di Kompleks Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Minggu (22/1/2006) sore.Temu alumni itu diadakan selama dua hari, dibuka oleh Menag M Maftuh Basyuni, Sabtu kemarin.Poin-poin dalam deklarasi itu di antaranya disebutkan para alumni akan melakukan dakwah Islam secara kosisten di manapun berada, mempelajari ilmu-ilmuIslam, selalu menjalin ukhuwah dengan sesama alumni maupun dengan keluarga besar Ngruki, serta akan berjihad fi-sabilillah hingga akhir hayat demi tegaknya kalimatullah di manapun mereka berada.Ada poin cukup penting sebagai respon positif alumni Ngruki terhadap konflik horisontal di sejumlah daerah. Di poin keenam disebutkan, "Kami akan selalu berjamaah dan bermuamalah dengan elemen-elemen muslimin lainnya demi terbentuknya wilayah-wilayah damai (daarul amni) yang diridhoi Allah." Menurut Ketua Ikatan Alumni Ponpes Islam Al Mukmin Ngruki (IKAPPIM), Ali Usman, para alumni Ngruki akan menjalin hubungan positif dengan elemen lain untuk bersama-sama meredakan konflik yang terjadi di mana pun, terutama diIndonesia. Langkah itu dilakukan oleh para alumni Ngruki untuk mewujudkan konsep wilayah aman dengan berhentinya permusuhan."Kami akan memberi kontribusi untuk menciptakan perdamaian di daerah konflik seperti Ambon dan Poso. Untuk menentukan wilayah aman atau wilayah perang itukami ikut pada apa yang difatwakan MUI saja. Kalau Jawa ini menurut MUI sebagai daerah aman makan kami akan mengikutinya," ujar Ali.Terkait Aksi TerorAcara temu alumni bukan sebuah acara istimewa. Banyak lulusan sekolah, universitas hingga akademi militer hingga kursus mengadakan acara seperti itu baik secara periodik maupun tidak. Yang menjadi tidak biasa dalam temu alumni kali ini adalah karena diadakan oleh para alumni Pesantren Ngruki.Pesantren ini sering dikaitkan dalam sejumlah tindak kekerasan dengan latar belakang agama. Dua pendirinya, almarhum Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir, disebut-sebut sebagai pendiri Jamaah Islamiyah. Bahkan hingga saat ini Ba'asyir masih mendekam di tahanan.Bukan hanya kedua pendiri itu, sejumlah alumninya juga terlibat dalam sejumlah aksi teror baik sudah divonis, ditangkap hingga yang masih berstatus buron. Tentu saja, meskipun masih berada di luar tahanan aparat, para alumni yang buron tersebut tidak hadir dalam acara temu alumni tersebut.Di antara alumni yang masih dicari polisi adalah Zulkarnaen alias Arif Sunarso alias Daud yang disebut-sebut sebagai Panglima Perang JI dan Abdurrachim Thayib, yang oleh sejumlah terpidana kasus teror disebut sebagai pengambil sumpah bai'at bagi mereka ketika bergabung dalam JI.Nama lain yang tidak kalah penting adalah Aris Munandar, pimpinan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak), yang diburu polisi karena diduga bertanggung jawab atas terjadinya sejumlah kekerasan di Ambon dan Poso. Lelaki asal Boyolali ini juga sempat masuk daftar teroris versi PBB atas usulan AS.
(nrl/)











































