Gus Dur Yakin Ada 'Sesuatu' Antara SBY dengan Ryamizard
Sabtu, 21 Jan 2006 17:16 WIB
Jakarta - Mantan Presiden Gus Dur menduga ada 'sesuatu' antara Presiden SBY dengan mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu. Persoalan antara keduanya jelas terlihat dari calon Panglima TNI yang disodorkan SBY ke DPR.Nama Ryamizard yang sebelumnya diajukan mantan Presiden Megawati dieliminasi begitu saja dengan pengajuan Marsekal TNI Djoko Soeyanto yang kini menjabat sebagai KSAU.Sehingga Gus Dur mempertanyakan, apakah pengajuan nama Soeyanto sudah sesuai mekanisme yang berlaku atau tidak."Apakah pengajuan itu sesuai dengan mekanisme! Jangan-jangan kebohongan yang terjadi. Ada persoalan pribadi masuk dalam persoalan negara. Lah itu yang paling kita takutkan," cetus Gus Dur dalam dialog politik dengan wartawan di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (21/1/2006).Dilihat dari sudut senioritas, sebetulnya bisa saja calon Panglima TNI berasal dari berbagai angkatan. "Tapi DPR sudah diputuskan kalau itu adalah Ryamizard, nah mestinya diikuti dong. Kalau nggak, berarti ada apa-apa antara SBY dan Ryamizard. Nah itu yang kita ingin tahu," katanya.Namun apa pun yang terjadi, Gus Dur meminta semua pihak menunggu sikap DPR. "Kita lihat dulu, jangan buru-buru makanya," tegas dia.Soal usulan Menhan Juwono Sudarsono dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto soal revisi UU TNI agar pengangkatan panglima tidak lagi disetujui DPR, karena dikhawatir akan RI akan kembali ke zaman Orde Baru, Gus Dur menilai kedua orang itu tentu memiliki alasan tertentu."Setiap keinginan itu ada dasarnya jadi kenapa kok harus DPR yang mengusulkan, karena selama ini ada apa ya, ada keinginan kuat untuk menjadikan sebagai alat kekuasaan. Karena ada rasa tidak percaya itu yang membuat keputusan seperti itu," katanya.Karena itu bagaimana selanjutnya, Gus Dur meminta semua pihak melihat dulu apa yang akan dilakukan DPR. "Nggak usah buru-buru pro atau anti terhadap pendapatnya Juwono Sudarsono. Kita lihat dulu," ujarnya.Gus Dur sendiri enggan mengungkapkan plus minusnya kalau DPR tidak terlibat dalam pencalonan Panglima TNI. "Ya itu kita nggak tahu, itu proses politik kan berjalan terus. Negosiasi ya berjalan terus. Apa kalau Juwono Sudarsono ngomong diikuti parlemen, kan nanti ada yang keberatan toh. Ya lihat saja nanti gimana!" katanya dengan nada santai.Saat ditegaskan lagi, apakah ia sepakat kalau Panglima TNI dari Angkatan Udara, Gus Dur hanya mengatakan, "Anda yang bilang sepakat, kalau saya mah diam saja."Mengenai revisi UU TNI seperti yang diungkapkan Menhan, Gus Dur terlihat tidak peduli. Ia menilai munculnya UU itu tentu ada sebabnya."Itu kan maunya Menhan, sebabnya kenapa kok ada itu loh. Kenapa harus diatur? Aturan itu ada karena selama ini TNI menjadi alat kekuasaan saja. Nah dalam rangka apa itu istilahnya, dalam rangka pengukuhan kekuasaan parlemen, maka diadakan seperti itu. Itu sebabnya. Jadi kita kalau nggak benar itu kalau mutusin sesuatu tanpa sebab-sebabnya," papar dia.Gus Dur sendiri tidak menyalahkan Menhan. Dalam hal ini ia menilai Menhan benar mengingat posisinya. Namun DPR pun tidak salah.
(umi/)











































