Kurang Dialog Penyebab Umat Islam Beda Persepsi Soal Jihad
Sabtu, 21 Jan 2006 16:19 WIB
Solo - Maraknya aksi terorisme diduga akibat perbedaan persepsi jihad yang mencolok di kalangan umat Islam Indonesia. Kondisi ini akhirnya menimbulkan saling tuding diantara umat Islam sendiri.Demikian garis merah bahasan diskusi yang digelar dalam temu alumni Ngruki di Kompleks Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Sabtu (21/1/2006). Tema diskusi yang juga menjadi tema reuni adalah 'Ngruki Menghadapi Isu Terorisme dan Permasalahan Jihad'. Tampil sebagai pembicara adalah Ketua Komisi Fatwa MUI/Ketua Tim Penanggulangan Terorisme KH Ma'ruf Amin, Koordinator Mer-C dr Jose Rizal, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto, Anggota TPM/TPABB Achmad Michdan, dan Direktur Pesantren Ngruki Ustad Wahyuddin.Ma'ruf Amin memaparkan, saat ini terjadi kesalahpahaman fatal pihak di luar Islam karena tidak mampu membedakan teror, terorisme dan jihad. Hal tersebut merupakan dampak dari terjadinya sejumlah aksi kekerasan yang mengatasnamakan jihad di kawasan yang bukan merupakan daerah perang."Indonesia ini misalnya, telah ditetapkan sebagai daerah damai, namun ada sekelompok kecil orang melakukan serangan atau kekerasan dengan mengatasnamakan perang atau berjihad," katanya. Padahal ada perang yang bisa disebut jihad namun ada pula perang yang bukan jihad. Bahkan, imbuh Ma'ruf, ada serangan kekerasan yang dikategorikan teror dan ada pula yang masuk kategori jihad, meskipun sama-sama menimbulkan kerusakan. Karenanya jika memang pelaku serangan adalah umat Islam, seharusnya mereka terlebih dulu melakukan dialog dengan sesama muslim lainnya di Indonesia sebelum mengambil keputusan."Saya sangat ingin bertemu dengan para pengebom itu untuk melakukan dialog dengan mereka. Juga mungkin untuk berdialog dengan orang yang berpikiran atau berencana akan mengebom," kata Ma'ruf.Dari pertemuan seperti itulah diharapkan akan didapatkan sebuah kesamaan pemahaman dalam menghadapi persoalan.Ketidakadilan PerlakuanJose Rizal sepakat menilai umat Islam kurang satu-padu dalam menghadapi persoalan umat. Sikap itu ditimbulkan terjadi karena perbedaan mendasar dari setiap golongan dalam memandang persoalan. Bahkan menurutnya, ada pihak yang tidak adil dalam menyikapi sebuah tindakan."Kalau saja seluruh warga Arab itu bersatu, mereka meludah bersama-sama saja mungkin Israel itu akan tenggelam. Namun hal itu sulit terjadi karena tidak ada kesatuan sikap diantara mereka," ungkapnya.Parahnya lagi banyak diantara negera-negara di dunia banyak yang tidak berani bersikap adil. Padahal seharusnya jika semua pihak memandang sebuah kekerasan yang mengancam jiwa manusia itu sebagai terorisme, maka mereka juga harus berani mengatakan AS dan sekutunya sebagai teroris. "Pemerintah maupun para ulama juga harus berlaku adil," tegasnya.Achmad Michdan dan Wahyuddin mendukung hal itu. Wahyuddin mengatakan, pihaknya selalu didzalimi dalam membela dan berjuang membebaskan Abu Bakar Ba'asyir. Michdan menilai pemerintah sangat tidak adil memperlakukan aktivis muslim dibanding perlakuan yang diberikan kepada aktivis di luar muslim.Sedangkan Ismail Yusanto mengingatkan terjadinya skenario global memerangi Islam dengan dalih memberantas terorisme. Amerika Sekitar dan sekutunya menggunakan terjadinya serangan menara kembar WTC sebagai pijakan memburu terorisme. "Padahal bukti yang menunjukkan bahwa serangan itu dilakukan oleh kelompok muslim sangat lemah," ujarnya.
(umi/)











































