Wawancara Eksklusif

Gus Nur Buka-bukaan Soal Panggilan 'Gus' dan Ilmu Debus

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 08:31 WIB

Gus Nur menyebut, panggilan 'gus' bukanlah harus anak seorang keturunan kiai dari NU. Namun demikian, lanjut Gus Nur, dirinya dia menilai dirinya layak menyandang gelar 'gus'.

"Sebenarnya saya nggak tahu sejak kapan ada idiom bahwa 'gus' itu harus anak kiai, saya nggak paham, 'gus' itu harus NU. Coba dibantu, coba buka Google (tentang-red) sejarah 'gus', kayanya nggak harus anak pesantren deh, nggak harus anak kiai ya," ujar Gus Nur.

"Tapi ternyata sekarang saya punya pesantren, saya bisa bangun pesantren, berarti layaklah (mendapat gelar 'gus'-red). Saya punya santri, saya biayai semua hidupnya, ustaz-ustaznya saya biayai semua hidupnya. Hidup saya ya berapa persen untuk agama Allah," tutur Gus Nur.

Gus Nur kemudian mengklaim sebenarnya ada darah kiai mengalir dalam dirinya. Gus Nur menyebut kakek buyutnya adalah kiai di Madura, meski dia tidak menjelaskan rinci siapa sosok kakek buyutnya yang dimaksud.

"Nah yang paling penting, saya baru tahu ternyata keluarga saya kiai semua. Kan baru ketemu setahun, dua tahun kemarin. Dulu kan saya kehilangan nasab, yang saya tahu bapak saya Gus Tomjeg pemain debus, sudah itu aja. Bapaknya Abah saya petani, sudah mentok sampai situ," jelas Gus Nur.

"Makanya dulu dakwah saya, 'Saya anak petani, saya anak pendekar', saya selalu begitu karena memang waktu itu saya belum tahu. Nah baru di rezim ini, saya mencari nasab ternyata ketemu di Blige, Madura itu. Kakek saya, mbah saya," tutup Gus Nur.

Wawancara Eksklusif Gus NurFoto: Wawancara Eksklusif Gus Nur (20detik)
Halaman

(aud/hri)