Anggota DPD Arya Wedakarna Didemo, Dianggap Lecehkan Kepercayaan Warga Bali

Angga Riza - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 18:55 WIB
Anggota DPD RI dari Bali Arya Wedakarna (AWK) didemo karena dianggap melecehkan simbol agama yang disucikan masyarakat Bali. (dok Istimewa)
Foto: Anggota DPD RI dari Bali Arya Wedakarna (AWK) didemo karena dianggap melecehkan simbol agama yang disucikan masyarakat Bali. (dok Istimewa)
Denpasar -

Puluhan masyarakat yang tergabung dalam Perguruan Sandhi Murti mendatangi kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali. Warga mendemo anggota DPD RI Dapil Bali Arya Wedakarna (AWK) yang dianggap melecehkan simbol agama yang disucikan masyarakat Bali.

Aksi demo sempat ricuh saat Arya Wedakarna menemui massa yang demo di Jalan Cok Agung Tresna Renon, Denpasar, Bali, Rabu (28/10/2020). Saat menemui pendemo, AWK mengaku sempat terkena pukul oleh salah satu pendemo.

AWK mengaku sudah menyiapkan ruangan untuk berdiskusi namun ditolak massa. Dia sempat menunggu selama 20 menit hingga akhirnya menemui massa.

"Kita sudah siapkan ruang rapat kita tunggu 20 menit tidak ada yang mau ke atas untuk rapat karena aspirasi saya sebagai DPD harus dengan media dan dialog. Kemudian saya lihat sudah mulai keterlaluan karena sudah melakukan penghinaan secara pribadi dan sebagainya. Saya berinisiatif menemui tetapi belum mau juga masuk ke kantor DPD padahal kami kami sudah buka gerbang bahkan saya sudah bilang kepada pak polisi 'ayo silakan buka saja, tenang saja, aman'," kata AWK kepada wartawan.

"Dan ketika mereka bilang aman saya merapat ternyata saya ada satu tindakan penganiayaan sebagai bukti ada penganiayaan di sini, kemudian di muka saya dan ada tadi video getok kepala saya," tambahnya.

Dia mengatakan akan melaporkan pihak yang diduga melakukan penganiayaan terhadap dirinya.

"Dan tindakan saya akan melaporkan ke Polda, saya akan ke Polda, akan divisum sekarang didampingi oleh Ngurah Agung dari Puri Grenjeng dan kita biarkan posisi hukum itu yang nanti menjalani seperti itu aja siap sebagai warga negara," paparnya.

AWK sendiri mengaku tidak mengetahui masalah protes warga yang ditujukan kepada dirinya.

"Saya nggak tahu masalahnya karena kemarin tidak ada surat, tidak ada perihalnya apa. Tadi saya amati dari kantor saya di sebelah aspirasinya nggak ngerti tentang apa niki. Makanya kita buka pintu, ayo dong tanya," jelasnya.

Secara terpisah, sesepuh Perguruan Sandhi Murti I Gusti Ngurah Harta menjelaskan kedatangannya ke kantor DPD Bali merupakan undangan dialog. Menurutnya masyarakat Bali sangat tersinggung dengan pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh AWK terhadap simbol yang dipuja masyarakat Bali.

"Sebenernya kedatangan kita hari ini undangan dia tapi dia mengajak dialog kita ke sana hanya ingin demo dan orasi supaya dia mendengarkan unek-unek masyarakat Bali. Masyarakat Bali sangat tersinggung sekali dengan pelecehan-pelecehan simbol yang dipuja oleh masyarakat Bali mengatakan makhluk padahal itu sosok yang sangat disucikan oleh masyarakat Bali disebut makhluk seperti Ratuniang Ratugede," kata Ngurah Harta.

"Ini ketersinggungan sangat luar biasa ini baru sebagian loh tidak semua, ini rencana masyarakat Bali mau turun semua terutama masyarakat Nusa Penida tapi masih menunda karena kita diberikan kesempatan untuk melapor dari awal gitu," tambahnya.

Ngurah Harta juga mempersilakan AWK melapor ke polisi dan melakukan visum diri. Dia mengatakan warga yang protes enggan berdialog karena pernah tak diberi kesempatan bicara pada pertemuan sebelumnya.

"Kalau dia melaporkan silakan dan kita akan tuntut tentang kasus masa lalu. Silakan dia visum diri tidak masalah, kita akan hadapi apapun akan kita hadapi. Kita tidak mau berdialog karena kita bukan kompromis sebab seperti kasus kemarin di Mancawarna hanya dia saja yang ngomong karena kita nggak dikasih kesempatan ngomong kenapa? Karena temen-temen emosi," tegas Ngurah Harta.

(jbr/jbr)