Perkuat Pancasila, MPR Ajak Generasi Muda Sampaikan Narasi Kebangsaan

Inkana Putri - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 20:28 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyp
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan Pancasila merupakan konsensus nasional yang dapat diterima semua paham, golongan, dan kelompok masyarakat. Pasalnya, rumusan Pancasila terbentuk dari proses menerima dan menghormati perbedaan, serta kebesaran jiwa untuk tidak memaksakan kehendak mayoritas terhadap minoritas.

"Pancasila adalah dasar negara yang mempersatukan bangsa sekaligus bintang penuntun yang dinamis yang mengarahkan bangsa Indonesia dalam mencapai tujuannya. Dalam posisinya seperti itu, Pancasila merupakan sumber jati diri bangsa, kepribadian, etika dan moralitas bangsa," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (27/10/2020).

Hal ini disampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Muda (ICMI Muda) Jawa Barat dan Civitas Universitas Sangga Buana secara virtual dari Bali.

Bamsoet menjelaskan seiring perjalanan sejarah bangsa Indonesia, Pancasila telah mengalami pasang surut dalam pusaran dinamika zaman. Menurutnya, persepsi publik terhadap Pancasila masih memprihatinkan. Hal ini melihat dari salah satu survei CSIS yang mencatat sekitar 10 persen generasi milenial setuju untuk mengganti Pancasila.

Sementara itu dalam survey Komunitas Pancasila Muda pada akhir Mei 2020, yang melibatkan responden kaum muda dari 34 provinsi, tercatat hanya 61 persen responden yang merasa yakin dan setuju nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka.

Dari hasil survey tersebut, sebanyak 19,5 persen bersikap netral, dan 19,5 persen lainnya menganggap Pancasila hanya sekedar nama yang tidak dipahami maknanya.

"Sebelumnya, survei LSI Tahun 2018 juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun, masyarakat yang pro terhadap Pancasila telah mengalami penurunan dari 85,2 persen pada tahun 2005, menjadi 75,3 persen pada tahun 2018," jelasnya.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mengatakan berbagai hasil survey di atas menandakan merawat nilai-nilai Pancasila menjadi hal yang urgent. Menurutnya, merawat kearifan Pancasila tidak cukup dengan hanya menghafal dan memahami setiap rumusan Pancasila, melainkan dengan menghayati dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Hal paling fundamental dalam merawat kearifan Pancasila, sekaligus tantangan terberat bagi upaya penguatan Pancasila sebagai ideologi negara, adalah menghadirkan Pancasila dalam setiap denyut nadi, tarikan nafas, gerak langkah serta perilaku kehidupan masyarakat," jelasnya.

Merujuk pada konsep transformasi karakter bangsa dalam kehidupan bernegara, Bamsoet mengatakan pembangunan karakter dan jati diri bangsa pada hakikatnya ditujukan untuk mewujudkan masyarakat dan sistem sosial yang berakar pada nilai kearifan lokal.

Lebih lanjut ia menambahkan jati diri bangsa merupakan sintesis yang positif antara nilai luhur bangsa serta nilai modern universal, yang mencakup etos kerja dan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, jujur, dan profesional.

"Pembangunan jati diri bangsa dilakukan melalui internalisasi, transformasi, revitalisasi, dan reaktualisasi tata nilai budaya bangsa yang mempunyai ciri khas unggul yang disintesiskan dengan nilai modern yang dinamis dan aktual. Untuk itu strategi pembangunan dan pemantapan jati diri bangsa tersebut harus dilakukan sejak usia dini, termasuk diimplementasikan dalam kurikulum resmi semua jenjang pendidikan," tandasnya.

Bamsoet menegaskan upaya tersebut nantinya akan memperkuat etos kerja bangsa. Menurutnya, warga negara yang terdidik dan berkarakter Pancasila merupakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing tinggi.

"Dalam kaitan ini, saya sangat mengharapkan partisipasi dari segenap kader ICMI Muda dan sivitas Universitas Sangga Buana, agar turut berperan aktif menyampaikan narasi-narasi kebangsaan dalam kerangka menumbuh-kembangkan semangat nasionalisme dan membangun wawasan kebangsaan, khususnya kepada para generasi muda bangsa," pungkasnya.

(ega/ega)