PKS soal Observatorium di NTT: Lebih Canggih dari Bosscha di Bandung

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 20:16 WIB
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mulyanto (Dok Istimewa)
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mulyanto (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Mulyanto, angkat bicara soal fasilitas observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mulyanto menilai observatorium itu akan didedikasikan untuk keperluan riset antariksa, penerbangan, serta pendidikan astronomi.

"Sebagai sebuah observatorium, seperti Observatorium Bosscha di Bandung dekat ITB, observatorium ini juga didedikasikan untuk riset antariksa dan penerbangan secara umum, termasuk pendidikan astronomi," ujar Mulyanto kepada wartawan, Selasa (27/10/2020).

Anggota Komisi VII DPR RI ini menjelaskan observatorium di NTT sudah mulai dibangun sejak 2017. Rencananya, observatorium itu akan selesai pada 2021.

"Observatorium ini dibangun bersifat tahun jamak sejak tahun 2017 dan direncanakan selesai tahun 2021," ujar Mulyanto

Menurut Mulyanto, observatorium di NTT akan menjadi tempat yang lebih canggih daripada Observatorium Bosscha di Bandung. Sebab, itu dibangun di daerah yang kadar polusi cahayanya relatif sedikit.

"Dengan kelebihan observatorium ini dibangun di daerah yang relatif langitnya cerah sepanjang tahun dan di daerah pegunungan nihil polusi cahaya. Tidak seperti di Bandung yang padat penduduk dengan polusi cahaya yang tinggi. Jadi observatorium ini dapat dikatakan pengganti yang lebih canggih dari yang ada di Bandung," ucapnya

Mulyanto mengatakan observatorium itu dapat digunakan untuk proses mitigasi bencana dan menganalisis cuaca atau iklim. Sebab, menurutnya, observatorium digunakan untuk memantau benda-benda antariksa yang berpotensi jatuh atau menabrak bumi.

"Jadi pemantauan dalam observatorium tersebut dilakukan dalam rangka mitigasi bencana tabrakan asteroid dengan bumi. Mitigasi bencana benda angkasa jatuh, dan lain-lain, yang menjadi amanah UU Keantariksaan," jelasnya.

Selain itu, observatorium tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengamati hilal pada hari raya umat Islam. Bahkan ia menilai keberadaan observatorium dapat digunakan untuk mendongkrak kemajuan pariwisata di kawasan Indonesia bagian timur.

"Selain untuk pengamatan hilal (rukyatul hilal) pada hari besar Islam, observatorium ini juga akan diarahkan untuk mendorong pariwisata di daerah setempat," ujarnya

"Karena, dengan hadirnya para peneliti baik dari dalam maupun luar negeri akan memicu efek ganda bagi pertumbuhan ekonomi dan aktivitas riset dan pendidikan juga memacu pembangunan sektor pendidikan di kawasan Indonesia bagian timur," imbuh Mulyanto.

Diberitakan sebelumnya, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) telah membangun fasilitas observatorium nasional di Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mencari kehidupan di luar bumi. LAPAN merencanakan program pengamatan transient project mulai tahun ini.

"LAPAN akan merencanakan program pengamatan transient objects mulai tahun 2020. Eksoplanet dan supernova adalah contoh objek transien. Dengan kata lain, kami akan mulai mencari dan mempelajari eksoplanet dengan lebih sistematis. Salah satu arahnya memang menjawab apakah ada kehidupan di luar sana," ujar Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto kepada wartawan, Selasa (27/10/2020)

Soal anggaran, Rhorom mengatakan, untuk teleskop 50 cm, harganya kira-kira mencapai Rp 1 miliar. Program ini sendiri mendapat anggaran sekitar Rp 340 miliar.

"Kalau untuk teleskop 50 cm, kira-kira sekitar Rp 1 M. Kurang-lebih sekitar Rp 340 M yang bersumber dari APBN," kata Rhorom.

(hel/isa)