Kisah Haji
Wartawan Senior RRI Terjebak di Lift Selama 1 Jam
Jumat, 20 Jan 2006 13:44 WIB
Madinah - Ada kalanya seseorang mengalami kejadian yang cukup menyeramkan di Tanah Suci. Misalnya kisah ini. Seorang wartawan senior Radio Republik Indonesia (RRI), H A. Safaat Sunia Atmadja terpaksa ngendon di lift selama 1 jam. Saat itu, lift tiba-tiba rusak. Peristiwa ini terjadi di Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah yang terletak di Jl. Airport (Mathar), Madinah, Rabu (18/1/2006). Kejadian yang dialami reporter RRI dari Bandung ini cukup mengerikan, karena terjadi pada malam hari, dari pukul 22.00 hingga 23.00 Waktu Arab Saudi (WAS) atau 02.00-03.00 WIB. Seperti biasa, pada malam itu, jurnalis yang memiliki suara ngebas ini mengambil air putih untuk bekal di kamar. Sehari-hari selama menjadi pelaksana Media Center Haji(MCH), pria 55 tahun ini memang menginap di kantor Daker ini. Malam itu memang cukup naas bagi Safaat. Malam-malam hari sebelumnya, Safaat selalu melalui proses pengambilan air ke ruang makan itu dengan mulus. Ruang makan ini terletak di lantai basement 1. Sekitar pukul 22.00, Safaat keluar dari kamar menuju basement 1 dengan naik lift di sebelah kanan. Di kantor ini, ada dua lift. Lift di sebelah kanan ini sebenarnya sudah sering rusak. Namun, belakangan ini, lift ini berjalan dengan sempurna, tidak dikeluhkan lagi oleh para penghuni kantor Daker. Dan malam itu, Safaat dengan mulus bisa sampai di basement 1. Dia pun memenuhi tempat air berkapasitas 1 liter miliknya itu. Saat akan kembali ke kamar, Safaat kembali memakai lift di sebelah kanan itu. Dipencetnya tombol untuk menuju kamarnya di lantai 4. Tapi, saat Safaat seorang diri berada di dalamnya, lift ini tiba-tiba mogok. Saat lift berhenti di lantai empat, pintu lift tidak mau membuka. Lift pun tiba-tiba turun kembali dan berhenti di basement 2. Basement 2 ini ruang gudang makanan dan obat. Tidak ada orang di ruang itu, kecuali dalam waktu-waktu tertentu saja. Di basement 2, pintu lift tetap tidak mau membuka juga. Safaat memencet tombol-tombol di dalam lift, namun tidak ada respons. Dia juga memencet alarm di alarm lift itu, tapi tidak berfungsi juga. Akhirnya, cara lama pun dilakukannya: menggedor-gedor pintu lift agar ada orang yang mendengar. Tapi, karena lift berada di basement 2, cara yang dilakukan Safaat pun sia-sia. Kucuran keringat saat itu mengalir deras di tubuh Safaat. Apalagi, AC di dalam lift juga mati. Safaat sempat dag dig dug dan ngeri juga. Dalam benaknya, dia bertanya akan sampai berapa lama dirinya berada di dalam lift itu. Saat itu, dia tidak membawa handphone-nya. Tentu cerita akan lain bila dia membawa telepon genggam. Dia sempat mengkhawatirkan pasokan oksigen di dalam lift itu habis. "Beruntung pintu lift itu tidak rapat. Jadi, saya bisa bernafas dengan cukup lancar," kata pria berkaca mata itu saat menceritakan kejadian yang dialaminya kepada reporter detikcom di Madinah, Arifin Asydhad, Kamis (19/1/2006). Setelah menggedor-gedor pintu tidak membuahkan hasil, dengan perasaan cemas, Safaat pun akhirnya melakukan salat di dalam lift. "Pokoknya salat saja dan berdoa minta keselamatan kepada Yang Di Atas," kata Safaat. Tidak lama setelah salat, tiba-tiba di basement 2 terdengar ada orang yang datang. Safaat pun menggedor-gedor pintu lift kembali agar orang itu mendengar dan berteriak meminta tolong. Dan pertolongan untuk Safaat pun datang. Orang yang berada di basement 2 itu mendengar teriakan Safaat. Dia pun langsung melapor ke bagian resepsionis. Petugas resepsionis langsung memanggil tukang servis lift. Saat itu, hati Safaat mulai sedikit berbunga. Doanya didengar Tuhan. Tapi, dia harus bersabar menunggu tukang servis lift datang. Cukup lama juga. Setelah tukang servis tiba dan pintu lift berhasil dibuka, Safaat pun akhirnya terbebaskan sekitar pukul 23.00. "Hampir 1 jam euy," kata pria humoris itu. Makan Korban LagiSetelah kejadian itu, lift itu pun diperbaiki. Lift pun berfungsi kembali. Namun, tidak kurang dari 3 jam, lift itu pun kembali macet. Ada seorang petugas haji yang kembali terjebak sekitar pukul 02.00, Kamis (19/1/2006). Tukang servis pun kembali dipanggil untuk memperbaikinya. Setelah diperbaiki, lift pun normal kembali. Namun, kurang dari lima jam, lift kembali mogok pukul 07.00. Kali ini, yang jadi korban adalah Rozali, mahasiswa yang menjadi tenaga musiman (temus). Rozali lebih parah dibanding Safaat. Dia terjebak di dalam lift 1 jam lebih. Tukang servis pun dipanggil untuk memperbaiki lift yang sudah menelan 3 korban kurang dari 12 jam itu. Hingga berita ini dilaporkan Jumat (20/1/2006), setelah diperbaiki kesekian kalinya, lift itu masih tetap normal-normal saja. Namun, banyak juga petugas haji yang khawatir naik lift itu. Semoga tidak ada korban berikutnya!Foto:A Safaat seusai menyelesaikan ibadah haji. Gambar diambil di sekitar Jamarat.
(nrl/)











































