Libur Panjang, Karyawan Pergi ke Zona Merah & Oranye Wajib Lapor

Inkana Putri - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 11:48 WIB
Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito
Foto: detikcom
Jakarta -

Pemerintah telah mengantisipasi lonjakan kasus COVID-19 menjelang libur panjang pada 28 Oktober - 1 November 2020. Oleh karena itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengimbau masyarakat untuk tidak bepergian keluar rumah, ke tempat ramai, atau pulang kampung.

Pasalnya, berdasarkan data periode liburan Idul fitri pada 22-25 Mei lalu, terjadi kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sekitar 69% - 93% dalam waktu 10 - 14 hari. Selain itu, pada periode libur panjang 20-23 Agustus 2020, terjadi kenaikan jumlah kasus harian sebanyak 58% - 118% dengan rentang waktu 10 - 14 hari.

"Juga terjadi angka kenaikan absolut pada tes dengan hasil positif yang naik mencapai 3,9% dalam dua minggu di tingkat nasional," ujarnya Wiku dikutip dari situs covid19.go.id, Senin (26/10/2020).

Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers virtual 'Perkembangan Penanganan COVID-19' di Media Center Satgas Penanganan COVID-19, Graha BNPB Jakarta pada Selasa (20/10).

Terkait hal ini, Tim Satgas Penanganan COVID-19 juga mendorong agar perkantoran dan perusahaan melakukan antisipatif bagi karyawan yang ingin berpergian ke luar kota saat libur panjang. Ia mengimbau agar perusahaan dapat meminta karyawan melaporkan ke kantor, terutama yang pergi ke zona oranye dan merah, serta mendorong karyawan untuk isolasi mandiri jika mengalami gejala demam, gangguan pernafasan, atau hilang indera perasa dan penciuman setelah libur panjang.

"Karyawan yang bepergian ke zona oranye dan merah harus melaporkan ke perusahaan," tegasnya.

Wiku menjelaskan hasil studi tahun 2020 'Effect of Human Mobility Restriction on The Spread of COVID-19 in Shenzhen China Modelling Study Using Mobile Phone Data' menunjukkan pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 20% dapat melandaikan kurva kasus sebanyak 33% dan menunda kemunculan puncak kasus selama dua minggu.

Dalam studi tersebut juga dijelaskan pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 40% dapat melandaikan kurva kasus 66% dan menunda kemunculan puncak kasus selama 4 minggu. Bahkan, pengurangan mobilitas dalam kota sebanyak 60% dapat melandaikan kurva kasus sebanyak 91% dan menunda kemunculan puncak kasus selama 14 minggu.

Sementara itu studi 'Stay at Home Works to Fight Again COVID-19 International Evidence from Google Mobility' menunjukkan 1% peningkatan masyarakat yang berdiam di rumah akan mengurangi 70 kasus dan 7 kematian mingguan. Bahkan 1% pengurangan mobilitas masyarakat menggunakan transportasi umum akan mengurangi 33 kasus dan 4 kematian mingguan.

Tak hanya itu, sebanyak 1% pengurangan kunjungan masyarakat ke ritel dan tempat rekreasi juga mengurangi 25 kasus dan 3 kematian mingguan, serta jika terjadi 1% kunjungan ke tempat kerja akan mengurangi 18 kasus dan 2 kematian mingguan.

"Bisa dibayangkan berapa banyak nyawa yang bisa dilindungi dan selamatkan dengan pengurangan kunjungan tadi," pungkasnya.

Oleh karena itu, terkait masih tingginya angka penyebaran COVID-19 di Indonesia, Wiku menyarankan agar masyarakat tetap di rumah selama libur panjang.

Namun, jika mendesak harus keluar rumah, ia mengingatkan agar masyarakat dapat terus #IngatPesanIbu seperti yang dikampanyekan oleh Satgas COVID-19. Adapun kampanye tersebut yakni menerapkan 3M dengan memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, dan mencuci tangan pakai sabun di air mengalir.

(akn/ega)