Kisah Haji
Cerita Asmara Kandidat Doktor dengan Seorang Dokter
Jumat, 20 Jan 2006 12:55 WIB
Madinah - Banyak kisah unik yang terjadi selama pelaksanaan ibadah haji. Banyak cerita gaib yang dialami oleh para jamaah. Ada juga jamaah haji yang mengalami kisah yang tak gampang dilupakan, apalagi bila mereka tersangkut kisah asmara. Kisah asmara yang dialami oleh AT, begitu inisialnya, mungkin termasuk salah satu kisah yang menarik. AT, pria keturunan Batak ini memang masih lajang, meski kini usianya sudah 35 tahun. Maklum saja kalau dia telat kawin, karena selama ini kerjaannya hanya kuliah dan kuliah. Kini, AT menempuh studi tingkat doktor di bidang teologi di salah satu universitas terkemuka di India. Bila dilihat dari wajahnya, pria ini memang tidak terlihat berusia di atas 30 tahun. Wajahnya masih imut-imut, seperti pemuda yang masih berusia 26-an tahun. Kota Suci Madinah dan Makkah menjadi dua kota yang bersejarah bagi kisah asmara AT. Dua tahun lalu, AT mengenal seorang gadis yang ternyata adalah salah satu dokter kloter. Namanya, dr Er. dr Er manis adalah perempuan cantik berkulit putih. Wajar bila AT kemudian kesengsem. Apalagi saat itu umur AT sudah menginjak 33 tahun, yang sudah bisa dibilang usia telat menikah. Tapi, saat itu, perasaan itu hanya dipendam AT di dalam hati. Setahun kemudian, AT yang saat itu juga terpilih sebagai temus (tenaga musiman) haji ini, kembali bertemu dr Er. Seakan dipertemukan kembali oleh Tuhan, AT pun kemudian meningkatkan frekuensi komunikasi dengan dr Er. Apalagi, ternyata dr Er juga masih belum jadi istri orang, meski usianya dua tahun lebih tua dibanding AT. Setahun lalu, dr Er ke Tanah Suci juga sebagai dokter kloter. Tugas dr Er melayani bidang kesehatan untuk jamaah haji satu kloter. Jika ada jamaah haji yang sakit, maka dr Er yang memeriksa dan memberinya obat. Bila jamaahnya mengalami sakit agak parah, maka dr Er merekomendasikan untuk merujuknya ke BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia). Setahun lalu saat bertemu kembali, AT dan dr Er lebih sering berkomunikasi. AT juga sering memberikan bantuan kepada dr Er dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai dokter kloter. Kadang-kadang AT juga memberikan bantuan kepentingan pribadi. Saat berbelanja atau sekadar jalan-jalan, AT juga selalu mengantar dr Er. Selepas musim haji 2005 usai, AT dan dr Er terpisahkan, namun tetap saja keduanya berkomunikasi lewat e-mail atau telepon. AT meneruskan studinya ke India, dr Er berada di Balikpapan, Kalimantan. Hubungan keduanya hanya sebagai teman, tidak lebih dari itu. Bertemu Ketiga KalinyaMusim haji tahun 2006 ini, AT masih saja dipertemukan dengan dr Er di Tanah Suci. AT berangkat sebagai temus, sedang dr Er menjadi dokter kloter jamaah haji dari Balikpapan. Pertemuan yang ketiga kalinya ini membuat komunikasi AT dengan dr Er semakin intens. Saat dr Er tiba di Madinah pada pertengahan Desember 2005 lalu, AT pun langsung menemuinya. Bahkan, saat itu AT langsung menolong dr Er, karena ada masalah sedikit dengan penginapan. Saat itu, ketua kloter dan dokter kloter tidak kebagian kamar. Kebetulan, AT bertugas di dalam divisi kasus dan pelayanan rumah. Jadi klop! Dengan uluran tangan AT, masalah pun jadi beres. Hari-hari berikutnya, tentu menjadi milik AT dan dr Er, meski hanya sebagai teman. Komunikasi terus dijalin AT, meski dr Er bersama rombongan jamaah haji sudah berangkat menuju Makkah. Dengan kedekatannya, AT jelas mengetahui alamat penginapan dr Er di Makkah. Dan saat mendekati puncak pelaksanaan ibadah haji, AT pun berangkat ke Makkah awal Januari 2006. Dia memilih menginap di Kantor Sub Daker 9, yang dekat penginapan dr Er. Kedekatan AT dengan Er semakin menjadi-jadi, karena setiap hari keduanya selalu bertemu. Saat di Mina pada 10-13 Januari 2006, AT dan dr Er juga terus kontak. Apalagi, tenda dr Er dengan tenda AT berdekatan. Tidak ada halangan. Bahkan, AT sering makan di tenda dr Er bersama jamaah haji lainnya. AT juga bersama dr Er dan jamaah lainnya saat melontar jumrah. Tapi, di Mina inilah ujian pertama bagi AT. Seorang pengurus maktab yang berdarah Banjar, Syamsuri, tidak senang dengan tindakan AT. Syamsuri juga tidak senang dengan kedekatan AT dengan dr Er. Isu yang berhembus, ada karib Syamsuri yang naksir dr Er. AT pernah ditegur Syamsuri agar tidak makan d tenda jamaah, karena AT bukan penghuni tenda tersebut. "Saya makan di tenda dengan dr Er, bukannya saya memakan jatah jamaah. Saya ke tenda itu membawa sendiri makanan yang sudah disediakan untuk saya," kata AT saat menceritakan kisahnya kepada reporter detikcom di Madinah, Arifin Asydhad, Kamis (19/1/2006). Di Mina, AT hanya mendapat teguran dari pengurus Maktab itu. Seusai prosesi haji selesai, AT masih sering main ke penginapan dr Er yang berada di kawasan Misfalah itu. Namun, AT tidak pernah menginap. Dia tetap menginap di Kantor Sub Daker 09. Suatu pagi, Minggu (15/1/2006), AT main lagi ke penginapan dr Er. Bahkan, keduanya sempat berbelanja oleh-oleh di kawasan pertokoan di dekat penginapan. AT memang bisa diandalkan, karena menguasai bahasa Arab. dr Er merasa terbantu bila menawar barang yang akan dibelinya. DitangkapMinggu siang, keduanya kembali ke penginapan. Nah, saat itulah, di saat AT sedang istirahat dan mengusir kelelahannya setelah berbelanja, Syamsuri mendatangi AT. Syamsuri datang dengan wajah kurang bersahabat. Tanpa basa-basi, Syamsuri pun menangkap AT. Ada tiga tuduhan yang dialamatkan kepada AT saat Syamsuri menangkapnya. Pertama, AT dituding melakukan selingkuh. Kedua, AT dituding makan jatah jamaah haji. Ketiga, AT dituding mencuri HP ketua kloter bernama Sofyan. Semua tuduhan itu dibantah AT. Karena membantah, AT pun digelandang menuju kantor Maktab dan dihadapkan kepada ketua maktab. Karena sudah dilapori Syamsuri, ketua maktab langsung menyemprot AT dengan tiga tuduhan itu. Semua barang milik AT, seperti dompet dan handphone, disita sementara oleh ketua maktab. Tapi, AT konsisten membantahnya. Namun, ketua maktab tetap mempercayai cerita Syamsuri, meski AT sudah bersumpah dengan Al Quran segala. AT merasa dilecehkan harga dirinya dengan tiga tuduhan itu. Untuk sekadar minta waktu salat asar, ketua maktab juga baru memberinya lima menit menjelang magrib. "Saya ditahan dari siang hingga habis isya. Setelah isya, saya dan ketua maktab meluncur ke kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah," kata AT. Kasus tuduhan terhadap AT ini pun diselesaikan bersama Ketua Daker Makkah Zainal Abidin Sufi. Ketua kloter Sofyan dan dr Er juga ikut serta. Di depan ketua maktab dan ketua Daker, AT kembali membantah tiga tuduhan yang dialamatkan kepadanya. "Meski dekat, saya tidak pernah satu kali pun mencium dr Er. Bagaimana saya dikatakan selingkuh," AT membela diri. Tentang tuduhan mengambil jatah makan jamaah, AT pun membantahnya. "Tentang mencuri HP, saya katakan, selama hidup saya, saya tidak pernah mencuri uang seriyal pun. Ketua kloter juga tidak menaruh curiga sedikit pun kepada saya," kata AT. Setelah pengakuan blak-blakan AT ini, ketua maktab pun luluh juga setelah dijelaskan bahwa ini terjadi karena ada kesalahpahaman. Dia pun membebaskan AT. Namun, barang-barang AT yang ditahan baru diserahkan kembali pada pukul 23.00 Waktu Arab Saudi(WAS) atau 03.00 WIB. "Dalam hidup saya, baru kali ini saya mengalami peristiwa seperti ini, sampai ditahan segala," kata AT yang tidak menerima perlakuan pengurus maktab itu.Menurut dia, tuduhan terhadap dirinya ini terjadi karena ada salah seorang pengurus maktab yang naksir dr Er. "Bahkan, pengurus maktab itu sudah memberikan hadiah walkman dan sering mengajak jalan-jalan," kata AT. Sebatas TemanLantas bagaimana sebenarnya hubungan AT dengan dr Er? AT mengaku dr Er hanyalah teman. "Sejujurnya, saya sebenarnya suka sama dia," kata AT membuka kartu. Namun, selama ini AT masih belum pernah mengungkapkan perasaan hatinya itu kepada dr Er. AT masih ragu-ragu mengungkapkan perasaan cintanya itu. "Ini karena domisili yang jauh saja, saya di India dan dia di Kalimantan," pemuda agak tambun ini.Lantas, apakah dr Er juga pernah memberi sinyal kepadanya bahwa suka sama dirinya? AT menggeleng. "Saya belum tahu, tapi sepertinya dia banyak pacar," aku AT. Oh....ternyata cinta AT masih bertepuk sebelah tangan. Namun, ujian yang dialami AT sudah cukup berat. Yang sabar....
(nrl/)











































