Taman Nasional Bali Barat Manfaatkan AI Huawei untuk Pengawasan Hutan

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Minggu, 25 Okt 2020 22:23 WIB
Huawei
Foto: Huawei
Jakarta -

Kepala Taman Nasional Bali Barat Agus Ngurah menerima kunjungan tim survei lapangan pemerintah. Tim survei tersebut merupakan tim lintas kementerian yang terdiri dari perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Badan Siber dan Sandi Negara, Badan Intelijen Negara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta tim teknis Huawei.

Tim survei itu pun melakukan penjajakan kerja sama pilot project CSR Huawei dalam program Tech4All, Smart Forest Guardian (pengawasan hutan dengan kecerdasan artifisial atau AI) yang diproyeksikan dibangun di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Kegiatan ini merupakan tidak lanjut rapat koordinasi yang dilakukan oleh Kemenko Marves bersama dengan Kemenkominfo, KLHK, BPPT, BIN, BSSN, serta Huawei pada Rapat Koordinasi Peningkatan Pengawasan Kawasan Hutan secara virtual pada hari Selasa (6/10).

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peningkatan kawasan hutan menjadi hal yang utama. Menurut Luhut, dengan memanfaatkan teknologi Huawei, pihaknya dapat langsung memantau perekaman data melalui suara untuk membuat data yang lengkap mengenai aktivitas hutan di Indonesia.

"Dengan teknologi tersebut, kita dapat mencegah aktivitas ilegal yang terjadi di hutan kita. Kami meminta kepada Huawei dan seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk dapat mengharmonisasi sistem dan data yang akan dikembangkan untuk dapat menjadi lompatan yang luar biasa dalam pengawasan aktivitas ilegal dalam hutan di Indonesia," ujar Luhut, dalam keterangan tertulis, Minggu (25/10/2020).

Sementara itu, CEO Huawei Indonesia Jacky Chen mengatakan sebagai penyedia TIK terkemuka di dunia yang telah 20 tahun hadir di Indonesia, Huawei berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia dalam mengantisipasi tantangan dan peluang melalui pemanfaatan teknologi. Adapun tujuan saat ini adalah preservasi lingkungan melalui teknologi yang dikembangkan.

"Selama masa pandemi, kami juga telah mengontribusikan teknologi Kecerdasan Artifisial (AI) dan Cloud bagi dunia kesehatan dan pendidikan. Merupakan kebanggaan bagi kami dapat memperluas kontribusi hingga menjangkau bidang lingkungan hidup di Indonesia melalui inisiatif global untuk inklusi digital TECH4ALL yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial Huawei dalam pemberdayaan teknologi digital bagi lingkungan, pendidikan dan kesehatan," ungkapnya.

Jacky mengatakan Huawei berkolaborasi dengan Lembaga Nirlaba (NGO) Rainforest Connection membangun Smart Forest Guardian menggunakan teknologi AI untuk melindungi hutan dari pembalakan dan perburuan liar, serta upaya konservasi alam di Taman Nasional Bali Barat. Rainforest Connection telah menggunakan teknologi ini di hutan hujan tropis Kosta Rika, Filipina dan beberapa negara lain.

"Kami sangat percaya bahwa teknologi yang baik dapat membawa manfaat yang lebih besar bagi dunia. Keterlibatan ini menjadi bagian awal dari perjalanan bersama untuk lingkungan yang makin lestari," ungkap Jacky.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno juga memberikan arahan kepada tim survei. Wiratno menjelaskan saat ini KLHK juga telah memanfaatkan teknologi untuk pengawasan satwa.

"Saat ini sudah pakai Camera Trap dan GPS Collar, untuk memantau gajah sumatera. Dengan kerja sama ini, teknologi AI (artificial intelligence) dimanfaatkan untuk mendeteksi suara yang berada di hutan. Deteksi suara ini juga dapat memperkaya sistem yang sudah dimanfaatkan KLHK untuk memantau satwa di Indonesia," ungkapnya.

Wiratno mengatakan teknologi ini diharapkan membantu pengamanan dan pengawasan hutan dari illegal logging, illegal mining, illegal poaching, pemantauan satwa, wisata alam, serta pengayaan dan pemanfaatan data kehutanan. Ia pun mengungkapkan saat ini Indonesia memiliki 54 taman nasional yang mana sebagian diantaranya merupakan situs warisan dunia (World Heritage) UNESCO.

"Diketahui, Indonesia memiliki koleksi 400 spesies burung endemik. Hingga dapat dikatakan terbanyak di dunia. Artinya ada 400 jenis burung endemik yang hanya bisa ditemukan di Indonesia. Salah satunya jalak bali yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bali Barat," ungkapnya.

Menurut Wiratno, baru-baru ini pihaknya juga bekerja sama dengan komunitas burung dan Swiss Winasis untuk menerbitkan buku Atlas Burung Indonesia. Wiratno mengatakan dengan pemanfaatan teknologi AI, keragaman suara satwa rencananya akan dikelola dalam virtual sound museum.

"Melalui teknologi yang akan kita kembangkan bersama Huawei dan Rainforest Connection, kita dapat membuat virtual sound museum yang berisi suara-suara yang tertangkap dari alat yang akan dipasang di hutan," ungkap Wiratno.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Taman Nasional Bali Barat Agus Ngurah yang menyambut baik rencana kerja sama ini. "Kehadiran teknologi yang akan kita kembangkan bersama Huawei dan Rainforest Connection ini akan bermanfaat dalam membantu kami melindungi hutan, khususnya di Taman Nasional Bali Barat dengan satwa endemik Jalak Bali yang juga merupakan satwa dilindungi karena tergolong langka," pungkasnya.

Sebagai informasi, tim survei juga berkesempatan menerima arahan dari Wakil Menteri LHK Alue Dohong yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Bali Barat. Alue Dohong meninjau penangkaran burung Jalak Bali dan melakukan pelepasliaran Jalak Bali (23/10).

Jalak Bali merupakan satwa endemik Bali yang menjadi maskot Taman Nasional Bali Barat. Keberadaannya di habitat aslinya hanya tinggal beberapa ratus ekor saja, bahkan sempat nyaris punah karena perburuan liar.

(ega/ega)