Membaca 3 Pendapat Hakim Agung AS soal Pemecatan karena LGBT

Andi Saputra - detikNews
Minggu, 25 Okt 2020 13:32 WIB
ilustrasi lgbt gay lesbian biseksual trangender waria
Foto: Andi Saputra/detikcom
Jakarta -

Indonesia dua pekan terakhir diperdebatkan atas pemecatan anggota TNI karena terbukti homoseksual atau yang dikenal sebagai lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Di negara Amerika Serikat, hak yang melekat ke LGBT masih diperdebatkan.

Dalam catatan detikcom, Minggu (25/10/2020), kasus terkini adalah yang dialami oleh mantan kordinator layanan kesejahteraan anak dari Gerogia, Gerald Bostock. Ia dipecat dari pekerjannya karena secara terbuka mengungkapkan orientasi seksualnya sebagai gay. Bosnya memecat dengan alasan Bostock melakukan hal yang tidak pantas sebagai pegawai daerah.

Ternyata kasus serupa juga dialami oleh 2 orang lainnya. Akhirnya Bostock dkk yang tidak terima menggugat kasus ini hingga Supreme Court (Mahkamah Agung, red).

Pada 15 Juni 2020, Supreme Court of The Unites States memenangkan Bostock dkk. Namun 9 hakim agung tidak satu suara. Tiga hakim agung, yaitu Samuel Alito, Clarence Thomas, dan Brett Kavanaug, menentang putusan tersebut.

"Diskriminasi 'karena seks' tidak dipahami sebagai sesuatu yang berhubungan dengan diskriminasi karena orientasi seksual atau status transgender. Gagasan semacam itu akan berbenturan secara spektakuler dengan norma-norma masyarakat saat itu," demikian bunyi pendapat Alito-Thomas soal Silabus Bostock v Clayton County, Georgia, yang dikutip dari website Supreme Court, Minggu (25/10/2020).

Menurut Alito-Thomas, bagi sebagian besar orang Amerika abad ke-21, menyakitkan untuk mengingat cara masyarakat pernah memperlakukan gay dan lesbian.

"Tetapi upaya jujur apa pun untuk memahami apa arti istilah Title VII ketika diberlakukan harus mempertimbangkan norma masyarakat saat itu. Dan kebenaran yang jelas adalah bahwa pada tahun 1964, homoseksualitas dianggap sebagai gangguan mental, dan perilaku homoseksual dianggap bersalah secara moral dan pantas dihukum," tulis Alito dalam dissenting opinion-nya.

Adapun hakim agung Kavanaug memberikan concurring opinion/pendapat berbeda. Ia menyatakan ikut prihatin atas apa yang dialami kaum gay dan lesbian Amerika. Jutaan gay dan lesbian Amerika telah bekerja keras selama beberapa dekade untuk mencapai perlakuan yang sama dan dalam hukum. Akan tetapi, Kavanaung menyatakan dirinya tidak berhak memutuskan kasus itu.

"Namun, di bawah pemisahan kekuasaan Konstitusi, saya percaya bahwa itu adalah peran Kongres, bukan Pengadilan ini, untuk mengubah Judul VII. Oleh karena itu, saya harus dengan hormat berbeda pendapat dari hakim lainnya," demikian pertimbangan Kavanung.

Tonton juga 'PBB: Pandangan Paus Fransiskus Sejalan Prinsip Nondiskriminasi':

[Gambas:Video 20detik]

(asp/yld)