Mahfud Md: Angka Kemiskinan Naik Jadi 9,7% karena Pandemi COVID

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2020 17:21 WIB
Mahfud Pimpin Rapat TGPF Penambakan di Papua
Mahfud Md (dok. Kemko Polhukam)
Jakarta -

Menko Polhukam Mahfud Md mengungkapkan angka kemiskinan di Indonesia naik menjadi 9,7 persen. Meningkatnya angka kemiskinan itu, disebut Mahfud, akibat dampak dari pandemi virus Corona (COVID-19).

"Sekarang, karena ada pandemi itu, angka orang miskin naik jadi 9,7 persen," kata Mahfud saat menjadi pembicara di perayaan ulang tahun IDI, yang disiarkan secara virtual, Sabtu (24/10/2020).

Awalnya Mahfud menyampaikan catatan angka kemiskinan mulai Indonesia belum merdeka hingga saat ini. Mahfud mengatakan, pada saat belum merdeka, angka kemiskinan di Indonesia mencapai 99 persen.

"Saya punya catatan begini, kalau pada zaman Indonesia belum merdeka atau tidak merdeka, di tahun 1945, tingkat kemiskinan kita itu angka kemiskinan kita itu tidak tercatat dengan resmi tapi dapat diyakini lebih dari 99 persen rakyat Indonesia itu berada di angka kemiskinan," ujarnya.

Mahfud menuturkan saat itu hampir seluruh masyarakat tercatat sebagai orang miskin. Hanya beberapa orang yang mampu bersekolah dan pergi naik haji.

"Karena pada waktu itu, tidak ada orang Indonesia yang tercatat tidak miskin kecuali beberapa orang yang bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang waktu itu sekitar 70 juta, hanya beberapa orang yang mampu bersekolah, mampu mungkin yang sangat memaksakan diri pergi naik haji menjadi saudagar," tuturnya.

Mahfud kemudian menyampaikan, saat era Orde Lama runtuh setelah 1965, angka kemiskinan di Indonesia mulai menurun. Saat itu, dikatakan Mahfud, angka kemiskinan tercatat menjadi 54 persen.

"Berarti pada waktu itu dalam waktu 20 tahun merdeka, 46 persen itu sudah berhasil diangkat menjadi tidak miskin," ucapnya.

Mahfud mengatakan, sesudah era Orde Baru, angka kemiskinan di Indonesia tercatat 18 persen. Mahfud menyebut angka kemiskinan setiap tahunnya mengalami penurunan, termasuk saat periode kedua Presiden Jokowi memimpin, tercatat turun menjadi 9,1 persen.

"Kemudian ketika Pak Harto jatuh pada tahun 1998, angka kemiskinan itu tinggal 18 persen. Bagus kan, ada kemajuan. Pada 2014, ketika Pak SBY digantikan, itu angka kemiskinan tinggal 11,9 persen. Pada saat Pak Jokowi menjadi presiden yang kedua sesudah satu periode lewat, itu angka kemiskinan itu tinggal 9,1 persen. Turun terus kan, (jumlah) orang miskin itu turun terus. Artinya, kemerdekaan itu ada gunanya," imbuhnya.

(dnu/dnu)