Kolom Hikmah

Potensi Junuudan Lam Tarawhaa, Lampaui Vaksin!

Abdurachman - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2020 04:59 WIB
Abdurachman, guru besar UNair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Ketika shalat Jumat di sebuah Masjid kompleks perumahan, duduklah di sebelah saya seorang siswa sekolah. Usia sekitar 12-13 tahun, setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sembari menunggu shalat Jumat dimulai, tampak siswa ini membolak-balik halaman buku di tangannya. Rupanya, ia sedang memperoleh tugas mendapatkan tanda-tangan dari Khatib yang menyampaikan khutbah.

Sejenak setelah khutbah disampaikan, terlihat dia semakin tenang. Badannya semakin condong ke depan lalu tertidur pulas. Sementara Khatib menyampaikan khutbah, siswa itu tetap dalam posisi tidurnya. Baru setelah sampai pada bagian akhir khutbah ia terbangun dan ikut menunaikan shalat Jumat.

Alhamdulillah. Boleh jadi peristiwa ini banyak dijumpai di sekian banyak masjid pada suasana khutbah di hari Jumat. Pertanyaan yang muncul, bukankah si guru menugasi siswa mendapatkan tanda tangan Khatib bertujuan agar para siswa, di samping hadir shalat Jumat di Masjid, juga bisa mengikuti seluruh informasi yang disampaikan Khatib melalui khutbah Jumat? Lalu menjadikan informasi itu sebagai salah satu sarana peningkat takwa?

Materi yang disampaikan Khatib terkait dengan kesiapan Muslim menerima kondisi pandemi Covid-19. Lalu apa benang merahnya?

Tidak satu pun peristiwa di alam semesta yang bisa terjadi, kecuali atas ijin Allah swt. Salah satu peristiwa itu ialah pandemi. Allah swt memperingatkan umat Islam antara lain melalui surat al-Baqarah 2:155-156. "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."

Adanya pandemi menimbulkan berbagai problem berupa; ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, korban jiwa dan penurunan penghasilan. Sebagian orang mungkin sibuk membahas bagaimana cara mengatasi problematika tersebut (siswa membolak-balik buku). Namun, bagi orang-orang beriman yang memiliki sabar, mereka segera mengevaluasi diri tentang kekeliruan yang telah dilakukan, untuk segera diperbaiki. Mereka menyegerakan diri bertaubat (kembali kepada Allah swt.), berpacu semakin mendekatkan diri kepada Allah swt. Sambil terus berusaha mencari solusi dari problematika yang ada. Berupaya mengatasi: ketakutan, resesi ekonomi, mencegah jatuhnya korban dan bergegas berinovasi, untuk segera menemukan solusi agar dapat meningkatkan penghasilan.

Gerakan segera kembali kepada Allah swt. adalah aktivitas membersihkan diri dari kotoran dosa; ketidakadilan, ketidakjujuran, egoisme, sangat materialistik dan beberapa kehinaan lain karena melakukan aktivitas yang bernilai dosa. Berakibat menjauhkan diri dari nilai-nilai kesucian, dari nilai-nilai uluhiyah, ialah nilai-nilai kesucian Tuhan.

Dalam agama Islam, peningkatan aktivitas kebaikan, sekaligus aktivitas menjauhkan diri dari keliru yang didasarkan iman kepada Allah, dinamakan takwa. Jika takwa ini dijalankan secara konsisten (istiqamah) maka, peluang untuk sirnanya berbagai problematika (bala', QS. 2:155) merupakan suatu yang niscaya.

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (surat Fushshilat 41: 30-32)

Mereka yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah ialah mereka orang-orang yang beriman, kemudian secara istiqamah (konsisten) berdasarkan keimannya itu, mereka terus melakukan aktifitas kebaikan, menjauhi keburukan. Jaminan terhadap mereka adalah turunnya para malaikat. Di dalam ayat lain para malaikat diistilahkan dengan junuudan lam tarawhaa (tantara-tentara Allah swt. yang tidak terlihat). Mereka turun untuk menghindarkan ketakutan dan kesedihan. Mereka datang justru untuk mengembirakan, memberikan semangat positif, optimisme, kedamaian, kesejahteran, kesempurnaan nikmat. Ialah seluruh gambaran suasana surga.

Suasana yang seluruhnya membahagiakan. Pastilah suasana demikian bukan gambaran suasana pandemi yang menimbulkan bermacam problematika. Itu berarti, kehadiran para malaikat untuk menyibak pandemi, menyibak seluruh problematika bahkan menggantinya dengan kebahagiaan yang bersinambung kepada kebahagiaan abadi di dalam surga Allah swt.

Memang, di dalam beberapa ayat lain malaikat disebut dengan istilah junuudan lam tarawha. Istilah junuud (tantara), digunakan al-Quran untuk menyebut malaikat, rupanya karena sebagian maknanya berupa peran malaikat di dalam menyibak 'musuh'manusia. Yang disebut musuh adalah apa pun yang akan mengurangi nilai kebahagiaan hidup, bahkan bisa mengancam kepada kebinasaan. Pada masa ini musuh tersebut antara lain adalah SARS-Cov-2 penimbul Covid-19.

Akhirnya, jika vaksin dimaksudkan untuk meningkatkan efek perlindungan, efek imunitas tubuh manusia terhadap Covid-19 secara fisik, maka upaya menjadikan diri lebih takwa adalah upaya yang bukan hanya mengindarkan diri dari keganasan SARS-Cov-2, bahkan bisa menyibak apa pun yang akan bernilai bencana terhadap kehidupan manusia. Lebih jauh, takwa berpotensi memindahkan manusia untuk selalu bersenang-senang bahagia, baik di dunia terlebih di dalam surga sesungguhnya.

Namun, jika dengan adanya pandemi ini justru timbul berbagai kerusuhan, kegaduhan dan yang semisal, sepertinya itu semua bukanlah upaya yang sejalan dengan aktivitas menghilangkan pandemi. Malah, jangan-jangan justru mengundang mushibah yang lebih dahsyat, na'uudzubillaah.

Sebagai bangsa yang berusia lebih dewasa dari siswa SMP, sepertinya sudah waktunya kita mengerti bahwa adanya pandemi bukan sekedar peristiwa kebetulan, lalu hanya sibuk kanan-kiri membolak-balik catatan naik turunnya korban. Tetapi hendaknya kita segera kembali kepadaNya. Ialah meningkatkan aktifitas taqwa secara signifikans.

Ketakwaan yang mampu menghadirkan junuudan lam tarawha. Para malaikat yang diturunkan sebagai tentara yang tidak kelihatan, yang diberi kemampuan oleh Allah swt. menyibak seluruh problematika, bahkan menghadirkan kehidupan surgawi dunia-akhirat, aamiin!

Abdurachman


Penulis adalah Guru Besar Fakulas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya
*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)