Banjir di Garut Tak Ada Korban Jiwa Disebut Berkat BMKG

Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 15:30 WIB
Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati
Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati, PhD, memuji sikap para kepala daerah yang telah menerima dengan baik berbagai informasi dari BMKG terkait cuaca di Tanah Air. Penerimaan itu membuat para kepala daerah bersama instansi terkait dapat berkoordinasi melakukan langkah-langkah antisipatif bila terjadi bencana. Dia mencontohkan banjir bandang di Sulawesi Selatan dan Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu tak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka yang parah.

"Pemerintah daerah Garut itu betul-betul memperhatikan informasi dari kami sehingga, saat terjadi banjir bandang, alhamdulillah itu zero victim," kata Dwikorita dalam Blak-blakan di detikcom, Jumat (23/10/2020).

Seperti diketahui, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan sungai-sungai besar di Garut meluap dan memicu banjir bandang di Kecamatan Cibalong dan Pameungpeuk, 12 Oktober lalu. Pemkab Garut mencatat ada 110 rumah warga yang terendam, tapi tak ada korban jiwa.

Terkait fenomena La Nina yang diperkirakan akan berlangsung hingga Maret 2020, dia melanjutkan, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi yang diikuti para kepala daerah. Selain itu, BMKG terus berkoordinasi dengan BNPB dan badan terkait lainnya untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat. Juga melakukan berbagai langkah antisipasi bila bencana benar-benar terjadi.

"Dalam siding kabinet juga Bapak Presiden Jokowi telah mendapatkan paparan dari kami terkait La Nina dan MJO ini. Beliau telah meminta para menteri dan kepala daerah melakukan antisipasi," kata Dwikorita.

Saat disinggung soal banjir besar di Jakarta akibat curah hujan yang sangat lebat pada awal Januari 2020, doktor bidang teknologi geologi dari Universitas Leeds, Inggris, itu menegaskan BMKG telah menyampaikan informasi dan peringatan ihwal potensi cuaca ekstrem itu jauh-jauh hari. Bahkan, kata dia, Sekretaris Daerah Pemprov DKI Saefullah rempat bertandang ke kantor BMKG di Kemayoran untuk meminta penjelasan langsung.

"Iya, Bapak Sekda almarhum itu sempat rawuh (hadir) ke BMKG, mendapatkan paparan terkait potensi cuaca ekstrem itu. Seingat saya, itu Desember atau November, kami ada catatannya. Jadi mestinya cukup persiapannya," kata Dwikorita.

Para ahli menyebut curah hujan ekstrem awal 2020 merupakan salah satu kejadian hujan paling ekstrem selama ada pengukuran dan pencatatan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya. Dalam catatan detikcom hingga sepekan pertama Januari, sebanyak 30 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 31 ribu orang mengungsi dari 158 kelurahan yang terdampak.

Beberapa pengamat perkotaan menyebut curah hujan yang ekstrem waktu itu sudah pasti memicu banjir. Sebab, normalisasi Kali Ciliwung tak kunjung dituntaskan. Hal itu terkait dengan kebijakan Gubernur Anies Baswedan yang tak ingin menggusur bangunan di sepanjang bantaran Ciliwung. Tapi kebijakan tersebut sepertinya akan berubah setelah terjadi longsor di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria (Ariza) menyatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membongkar bangunan di bantaran sungai. Juga akan mengeruk lumpur di sungai-sungai Ibu Kota, membangun sodetan, hingga menyiapkan pompa air.

(jat/jat)