Jelang Libur Panjang, KAI Pastikan Keamanan & Kenyamanan Penumpang

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 10:23 WIB
PT KAI
Foto: PT KAI
Jakarta -

Menjelang long weekend, kereta api sebagai transportasi publik massal dapat menjadi alternatif moda yang aman, sehat, tepat waktu, dan efisien. PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai operator layanan perkeretaapian di Indonesia telah mendapatkan Safe Guard Label SIBV beberapa waktu lalu, karena dinilai telah konsisten dalam menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kereta api.

Audit Safe Guard Label SIBV dilakukan oleh Surveyor Indonesia dan Bureau Veritas Indonesia selama 3 minggu dengan sampling 11 lokasi yang terdiri dari perkantoran, stasiun, dan balai yasa, yang mana seluruh lokasi tersebut merepresentasikan gambaran proses bisnis KAI secara keseluruhan. Adapun Safe Guard Label SIBV tersebut telah diserahkan secara virtual oleh Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (Persero) Dian M. Noer kepada Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo pada Jumat (25/9) lalu.

VP Public Relations KAI Joni Martinus mengatakan KAI menjadi perusahaan penyedia jasa transportasi pertama di Indonesia yang mendapatkan Safe Guard Label SIBV ini.

"Audit ini bertujuan untuk menunjukkan keseriusan dan komitmen KAI dalam menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 di lingkungan perusahaan. Sebagai BUMN penyedia jasa transportasi publik, KAI merasa perlu meyakinkan masyarakat bahwa seluruh layanannya telah memenuhi standar protokol pencegahan COVID-19," ujar Joni Martinus, dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2020).

Menurut Joni, pemberian Safe Guard Label SIBV ini akan meningkatkan kepercayaan seluruh stakeholder saat berada di stasiun, kereta, dan seluruh lingkungan KAI pada masa pandemi COVID-19. Safe Guard Label SIBV ini juga telah mengacu pada parameter yang disusun oleh ahli dan auditor Kantor Pusat BV, international best practices, World Health Organization (WHO), regulasi Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

"KAI secara konsisten menerapkan protokol kesehatan yang ketat pada berbagai wilayah kerja agar risiko penularan COVID-19 dapat diperkecil. KAI telah menyusun pedoman protokol pencegahan COVID-19 yang ditetapkan perusahaan bagi pekerja, pelanggan, dan mitra. Seluruh jajaran KAI berkomitmen untuk konsisten dalam menerapkan protokol kesehatan yang telah disusun tersebut, agar bisnis perusahaan dapat berjalan baik di masa Adaptasi Kebiasaan Baru," ungkapnya.

Joni mengatakan khusus bagi pelanggan kereta api, KAI terus mengimbau untuk memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan saat bepergian dengan KA. Pelanggan diwajibkan memakai masker, menunjukkan surat bebas COVID-19, dan suhu tidak melebihi 37,3 derajat sejak pengoperasian Kereta Api Luar Biasa (KLB) pada tanggal 12 Mei 2020.

Untuk perlindungan ekstra, KAI memberikan Face Shield kepada pelanggan KA Jarak Jauh sejak 12 Juni 2020 untuk menurunkan risiko penyebaran COVID-19 melalui droplet.
Pelanggan yang membawa penumpang bayi diwajibkan membawa faceshied sendiri. Pelanggan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut akan ditolak naik kereta api.

Joni mengungkapkan KAI juga sudah membatasi kapasitas tempat duduk yang dijual. Kapasitas yang dijual yakni 70% pada perjalanan KA Jarak Jauh Reguler sejak 12 Juni hingga saat ini. "Pembatasan kapasitas dan jumlah perjalanan masih secara konsisten KAI terapkan untuk menciptakan physical distancing di dalam kereta dan di stasiun agar tidak terjadi kepadatan," jelas Joni.

Dari sisi internal KAI, petugas juga rutin melakukan pembersihan dengan cairan disinfektan, pembuatan marka jarak antrean, penyediaan fasilitas cuci tangan tambahan, pengukuran suhu tubuh dan berbagai langkah pencegahan lainnya.

Menurut Joni, untuk membantu memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam memenuhi salah satu syarat protokol kesehatan untuk dapat naik KA, rapid test pun dapat dilakukan di stasiun-stasiun KA. Hingga saat ini, sudah ada 30 stasiun yang menyediakan layanan rapid test. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau yaitu hanya Rp 85.000.

Joni menjelaskan layanan rapid test di stasiun pertama kali diluncurkan di Stasiun Pasar Senen pada 29 Juli 2020, yang mana pada tahap awal baru tersedia di 12 Stasiun. Adapun stasiun yang menyediakan yaitu Stasiun Gambir, Pasar Senen, Bandung, Cirebon, Semarang Tawang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Surabaya Gubeng, Surabaya Pasarturi, dan Malang. Terjadi juga penambahan rapid test di beberapa stasiun yaitu Stasiun Kiaracondong, Cirebon Prujakan, Tegal, Kroya, Kutoarjo, Blitar, Kertosono, Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, Jember, Ketapang, Kertapati, Prabumulih, Muara Enim, Lahat, Tebing Tinggi, dan Lubuk Linggau sehingga totalnya menjadi 30 stasiun.

"Penambahan stasiun yang melayani rapid test ini merupakan bentuk peningkatan pelayanan yang kami berikan bagi pelanggan dalam rangka menerapkan protokol kesehatan pada perjalanan kereta api. Layanan ini untuk memudahkan pelanggan sehingga tidak perlu mencari tempat rapid test di luar. Apalagi harganya juga terjangkau," ujar Joni.

Joni mengatakan pelanggan yang berhak melakukan rapid test di stasiun ini diharuskan memiliki kode booking dan disarankan selambatnya satu hari sebelum tanggal keberangkatan. KAI juga mengimbau pelanggan untuk melakukan pembelian tiket melalui berbagai channel online dan tidak perlu datang ke stasiun sehingga dapat menghindari berkerumun.

Aplikasi KAI Access dapat menjadi alternatif yang efektif karena fitur-fiturnya yang memang sudah diciptakan sedemikian rupa untuk memudahkan pelanggan hanya dalam satu aplikasi saja. Pelanggan terlebih dahulu dapat mengunduh aplikasi KAI Access yang sudah tersedia di Google Play ataupun Appstore.

Setelah mengunduh aplikasi KAI Access, daftarkan diri dengan membuat akun di aplikasi tersebut. Selain pembelian tiket, beberapa fitur lain yang memudahkan pelanggan yaitu E-boarding pass, Cancelation, dan Reschedule.

"Kemudahan-kemudahan yang diberikan KAI dapat mendukung berbagai kebutuhan dan kegiatan masyarakat, terutama agar semakin bijak dalam bepergian dengan memanfaatkan teknologi yang ada di tengah pandemi COVID-19," pungkas Joni.

(ega/ega)