Round-Up

Pangkat Anyar 2 Jenderal TNI Anak Buah Prabowo Eks Tim Mawar

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 05:55 WIB
Mobil Dubes Saudi memasuki kantor Kemenhan
Foto: Ilustrasi Kementerian Pertahanan. (Lisye Sri Rahayu/detikcom).

Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) juga mengkritik pengangkatan Mayjen Dadang dan Mayjen Yulius sebagai anak buah Menhan Prabowo di Kementerian Pertahanan. Menurut IKOHI, hal tersebut merupakan penghinaan terhadap keluarga korban Tragedi 1998.

"Keppres No 166 tahun 2020 dari Presiden Jokowi ini tentu ini penghinaan terhadap keluarga korban yang selama 22 tahun memperjuangkan menuntut pencarian atau mengembalikan keluarga mereka yang hilang hingga saat ini dan berbagai upaya advokasi yang dilakukan sepanjang 2 dekade ini," kata Sekjen IKOHI Zaenal Muttaqin dalam Webinar Kontras, Minggu (27/9/2020).

Zaenal mengungkapkan bahwa selama ini keluarga korban terus berupaya mencari anggota keluarganya yang hilang pascatragedi 1998. Pihaknya pun kerap menuntut pemulihan hak-hak korban kepada Jokowi.

Namun, adanya pengangkatan dua pejabat eks Tim Mawar, menurut Zaenal, sama saja menempatkan orang-orang yang telah mengambil paksa para aktivis 1998 di tampuk pemerintahan Jokowi. Atas hal ini, pihaknya pun mengecam keras penetapan Keppres tersebut.

"Saya ulangi lagi bahwa keputusan Presiden Jokowi ini nomor 166 tahun 2020 merupakan penghinaan ya bagi keluarga korban dan bahwa kami menuntut terhadap Presiden Jokowi soal status kependudukan soal hak-hak pemulihan korban," jelasnya.

"Bukannya mengabulkan, justru malah menempatkan para pencuri itu di dalam pemerintahannya. Itu yang kami tidak bisa membayangkan luka yang menambah, seperti luka kemudian disiram air cuka. Ini sungguh kami sesalkan kami tentu mengecam keras Keputusan Presiden Jokowi ini," sambungnya.

Promosi yang didapat Mayjen Dadang dan Mayjen Yulius juga disorot oleh istri aktivis Wiji Thukul, Dyah Sujirah. Perempuan yang akrab disapa Sipon itu menilai pengangkatan dua eks-Tim Mawar itu sebagai pertaruhan karena sepak terjang mereka akan semakin disorot publik.

"Mudah-mudahan setelah berani mengangkat Tim Mawar berarti mereka (pemerintah) mempertaruhkan yang dia miliki. Misal seorang menteri bilang 'saya bersih', tapi ketika korupsi sedikit, justru mempertaruhkan segalanya," kata Sipon saat dijumpai di kediamannya, Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Senin (28/9/2020).

Dyah pun berharap Presiden Joko Widodo berkomitmen menyelesaikan kasus dugaan penghilangan orang secara paksa pada 1998. Masuknya eks-Tim Mawar, ujar dia, diharapkan menjadi titik terang pengusutan kasus.

"Saya bersyukur mereka berani mengangkat Tim Mawar. Mudah-mudahan dia memang benar-benar baik dan tidak terkena oleh apinya sendiri. Kalau dia baik dan jujur apinya akan menolong, tetapi kalau tidak jujur akan membakar mereka sendiri," katanya.

Bertahun-tahun belum menemukan pencerahan, Sipon mengaku memiliki kekecewaan. Dia tetap akan berjuang mencari keadilan untuk keluarganya.

"Kalau kecewa ya wajar, sudah bertahun-tahun. Saya hanya berharap temuan IKOHI (Ikatan Keluarga Orang Hilang) dibaca betul oleh Presiden. Karena dulu dikembalikan Jaksa Agung. Sampai sekarang kita tunggu tapi belum terjawab," ujar dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3