Sutiyoso: Perlu Pejabat Setingkat Menteri Koordinir Jakarta
Kamis, 19 Jan 2006 15:47 WIB
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso lagi-lagi melemparkan wacana perlunya pejabat setingkat menteri yang bertanggung jawab mengkoordinir Jakarta dan daerah sekitarnya. Berminat Pak?"Bisa jadi Gubernur Jakarta sebagai ex-officio penanggung jawab. Jadi jelas siapa yang bertanggung jawab. Selama ini sudah ada forum komunikasi cuma hasilnya tidak semudah yang dibicarakan," ujar Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso saat menjadi pembicara talk show Jakarta Megapolitan dan Daerah Penunjangnya di Romeo Resto & Bar, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (19/1/2006).Pentingnya penanggung jawab itu, menurutnya, karena banyak persoalan di Jakarta yang terkait dengan daerah penyangga di sekitarnya. "Dasar hukumnya juga jelas. Dalam UU Otonomi Daerah, khusus ibu kota, dikatakan perlu ada UU sendiri. UU No. 22/2004 berlaku untuk semua provinsi kecuali Jakarta," terang Sutiyoso.Dengan adanya koordinasi yang jelas diharapkan hubungan antara Jakarta dan daerah penyangganya menjadi lebih baik. "Jadi perlu diatur juga soal tata ruang, soal kemacetan, sampah, dan banjir. Bayangkan saja setiap hari 600 ribu kendaraan masuk ke Jakarta," imbuh purnawirawan jenderal bintang dua itu.Berbeda dengan Sutiyoso, pengamat ekonomi dan lingkungan Emil Salim lebih menekankan pentingnya rencana bersama diantara daerah yang terkait dibanding siapa yang harus menjadi koordinatornya."Perlu ada lagu yang dinyanyikan bersama. Yang menjadi pemersatu adalah rencana," ujarnya.Bantah Caplok Daerah LainTerkait rencana megapolitan yang mencakup daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur, Sutiyoso menolak istilah pencaplokan oleh Jakarta terhadap daerah lain."Fungsi pemerintahan mereka tetap. Megapolitan bukan penggabungan atau kasarnya pencaplokan. Setiap daerah punya interes dan kebijakan sendiri," tegasnya.Dia menjelaskan perlunya sinkronisasi antara kota yang terkait sehingga keuntungan maupun beban dapat dirasakan bersama. "Jadi perlu ada koordinasi disini. Contohnya soal sampah, jadi jangan cuma dianggap daerah sekitar dapat sampah. Sampah bisa menjadi profit jika dikelola. Jakarta juga selalu dapat kiriman banjir dari selatan," ujarnya.
(san/)










































