Cek Titik Nol Ciliwung, Bima Arya: Cinta pada Alam Harus Kita Genjot

Inkana Putri - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 23:19 WIB
Dalam rangka kegiatan siaga bencana hidrometeorologi, Wali Kota Bogor Bima Arya meninjau titik nol kilometer Sungai Ciliwung.
Foto: Dok. Pemkot Bogor
Jakarta -

Dalam rangka kegiatan siaga bencana hidrometeorologi, Wali Kota Bogor Bima Arya meninjau titik nol kilometer Sungai Ciliwung. Dalam tinjauannya tersebut, Bima juga melakukan penanaman bibit vetiver, pohon keras, dan menebar benih ikan.

"Saya baru pertama kali ke titik nol kilometer Ciliwung. Perubahan yang dahsyat telah terjadi di sini, di titik ini. Ini menjadi simbol kepedulian kita semua terhadap sungai dan alam. Dan ini semua tidak terlepas dari peran Pak Doni ketika menjadi Pangdam dan Pak Hasan ketika menjadi Danrem di sini," ujar Bima dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2020).

Di tengah pandemi saat ini, Bima menjelaskan peran yang dilakukan dulu menjadi sangat relevan. Menurutnya, peduli terhadap alam menjadi hal penting yang perlu dipertahankan.

"Ketika back to nature di tengah pandemi ini, Pak Doni telah melakukan kampanye masif yang saya kira luar biasa. Bagaimana kita menghargai alam, kembali ke alam. Habluminannas kurangi sedikit, Habuminallah tidak boleh berkurang, tetapi Habluminalalam atau cinta kepada alam harus kita gejot terus," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyatakan Telaga Saat ini pada periode 2018 awal masih ditutupi dengan gulma. Bahkan, sekitar 85 persen merupakan daratan, dan hanya 15 persen yang terdiri dari air.

"Danjen Kopassus ini hadir di sini sekarang bukan sebagai Danjen. Tetapi sebagai mantan Danrem 061/Suryakencana yang merintis, memulai program untuk pemulihan Telaga Saat. Jadi kehadiran beliau sebagai pelopor bersama dengan tim relawan bela alam. Terimakasih kepada Jenderal hasan bersama tim relawan yang telah bekerja keras sehingga Telaga Saat yang tadinya tidak terlihat air, sekarang ini bisa menjadi indah," katanya.

Doni berharap dengan adanya kegiatan ini, perubahan Telaga Saat bisa menjadi inspirasi bagi banyak komunitas di seluruh Indonesia untuk lebih memperhatikan lingkungan, terutama sumber mata air.

"Air adalah sumber kehidupan, sungai adalah peradaban bangsa. Maka kita menjadi bangsa yang beradab dengan cara menjaga mata air agar kelak tidak menjadi air mata. Dan juga menjaga sungai-sungai kita agar sungai bisa menjadi tempat yang menyenangkan, bisa memberikan penghidupan bagi masyarakat di sepanjang sungai," jelasnya.

Di sisi lain, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan akhir-akhir ini akan ada potensi terjadinya curah hujan tinggi. Bahkan dalam minggu-minggu akan terjadi fenomena cuaca secara bersamaan dan dampaknya bisa terjadi hingga ke Bogor.

Ia menjelaskan suhu muka air laut di Samudera Pasifik telah mengalami anomali, dan saat ini sudah minus hampir mencapai 1 derajat celcius. Sedangkan, suhu muka air laut di kepulauan maritim Indonesia hangat sehingga terjadi gap antara suhu muka air laut di Samudera Pasifik bagian tengah ekuator dengan Kepulauan Indonesia.

"Fenomena ini disebut La Nina. Kebetulan saat ini sedang mengalami peningkatan curah hujan. Artinya, terjadi double. Tidak ada La Nina saja Bogor ini juara, selalu curah hujannya tinggi. Apalagi terjadi La Nina. Dampak peningkatannya bisa mencapai 20 persen hingga 40 persen," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan pada pekan ini, akan masuk juga gelombang awan dari sebelah timur Afrika Selatan memasuki wilayah Indonesia yang disebut fenomena Madden Julian Oscillation (MJO).

"Artinya di minggu ini ada 3 fenomena bersinergi. Bersinergi ya itu fenomena La nina, fenomena MJO, dan fenomena curah hujan aslinya di Bogor. Untuk itu mari kita jaga alam, alam akan jaga kita. Maka kita mengantisipasi potensi terjadinya hujan dengan intensitas tinggi, puncaknya di bulan Desember, Januari, Februari. Tetapi khusus minggu ini, meskipun belum memasuki puncak, ada tiga faktor yang bersinergi tadi. Semoga penghijauan ini dapat membantu kita semua," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan dalam suasana musim hujan, daerah Jawa Barat ini tidak lepas dari bencana.

"Baru beberapa hari musim hujan turun, sudah ada beberapa bencana. Antara lain banjir bandang ada 4 kali. Kemudian ada banjir genangan sampai 11 wilayah dan juga longsor 11 kejadian dan angin puting beliung 5 kejadian," katanya.

Ia menjelaskan bencana yang terjadi salah satu faktornya adalah kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat menghindari kegiatan yang dapat merusak alam.

"Allah sudah memerintahkan jangan membuat kerusakan di bumi. Kenapa sekarang banyak bencana? Sudah jelas kerusakan dimuka bumi ini, baik di lautan dan daratan karena tangan-tangan manusia. Maka Alhamdulillah Pak Jenderal hari ini ada kegiatan yang sangat luar biasa sebagai langkah antisipasi dan juga untuk meningkatkan keimanan kita. Hubbul wathon minal iman, cinta tanah air sebagian dari pada iman. Insya Allah akan membawa kemaslahatan," pungkasnya

Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut turut hadir Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin, Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Mayjen TNI Mohamad Hasan dan perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

(akn/ega)