Cerita Kagoknya Jazilul Fawaid Wisuda S3 Virtual UNJ

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 21:39 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid diwisuda dari program S3 atau doktoralnya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) hari ini. Ia mengikuti proses wisuda secara virtual dari rumahnya di Ciputat, Tangerang Selatan.

"Kagok juga sebab pakai toga sendiri, berdiri sendiri, dan di depan kamera yang terhubung secara virtual dengan yang lain," ujar dia dalam keterangannya, Selasa (20/10/2020).

"Ada hikmah dari wisuda virtual UNJ ini. Hikmah yang didapat adalah acara berlangsung bisa terselenggara dengan efektif, efisien, dan anggaran yang tidak besar. Bedanya hanya rasa karena tidak diwisuda secara langsung. Wisuda virtual kelihatan aneh dan gregetnya kurang, namun tidak mengurangi makna wisuda itu sendiri," imbuhnya.

Politisi PKB ini mengatakan dalam masa pandemi COVID-19, yang paling penting buat wisudawan ialah turun ke tengah-tengah masyarakat. Ini sesuai dengan ikrar para wisudawan yang diminta terjun ke masyarakat untuk mengaktualisasikan ilmu dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan bidang masing-masing.

Misalnya, ia mendorong wisudawan dari kalangan S1 untuk kreatif dalam mencari kerja dan menerapkan ilmunya. Sebab kalau mencari pekerjaan saat ini mungkin sedang lagi sulit.

Sebagai informasi, Jazilul Fawaid diwisuda setelah lolos dalam ujian disertasi terbuka pada 17 Februari 2020. Disertasi yang dibuat berjudul 'Pengaruh Rekrutmen, Kompetensi, dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Anggota DPR RI Periode 2014-2019'.

Disertasi itu menyebut pola rekrutmen menjadi salah satu variabel yang sangat menentukan dalam kinerja anggota DPR. Selama ini, sistem rekrutmen caleg dilakukan secara terbuka dan itu menjadi kewenangan partai. Ujung tombaknya adalah rekrutmen oleh partai. Sekarang faktanya dengan rekrutmen terbuka, siapapun bisa masuk asal mendapatkan suara terbanyak.

Lebih lanjut ia menjelaskan sistem rekrutmen terbuka membuat sistem kaderisasi di dalam partai menjadi lemah, padahal ujung tombak rekrutmen adalah parpol. Ia membandingkan dengan model tertutup, saat partai mempunyai tanggung jawab melahirkan kader yang serius.

"Di dalam partai menurutnya ada beragam macam kader. Ada kader dadakan dan kader yang memang dikader," ujarnya.

(mul/mpr)