Satgas COVID Minta CFD Ditiadakan-Imbau Antisipasi Kerumunan Keluarga

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 18:19 WIB
Warga bersepeda melintasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (30/8/2020). Warga tetap berolah raga meski Car Free Day (CFD) ditiadakan di kawasan jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin karena adanya perpanjangan masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi fase I di ibu kota hingga 10 September mendatang untuk mencegah penyebaran COVID-19.  ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Foto Ilustrasi CFD (M Risyal Hidayat/Antara Foto)
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 memaparkan antisipasi di beberapa hotspot yang rawan penyebaran virus Corona (COVID-19) di libur panjang akhir Oktober nanti. Selain menyarankan agar acara keagamaan yang dihadiri banyak orang dihindari lebih dulu, masyarakat diminta memperhatikan potensi penularan Corona akibat kerumunan keluarga.

"Pemerintah dan masyarakat harus meningkatkan sinerginya untuk menjalankan protokol kesehatan secara disiplin untuk mengantisipasi terjadinya penularan COVID-19 pada masa libur panjang ini," ujar jubir Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam konferensi pers secara virtual di saluran YouTube BNPB Indonesia, Selasa (20/10/2020).

"Pelaksanaan perayaan keagamaan di luar terbuka dan dihadiri banyak orang disarankan tidak dilakukan. Jika terpaksa dilakukan maka kapasitas kehadirannya tidak lebih dari 50% untuk acara di dalam ruangan," sebut Wiku.

Wiku juga menyoroti soal potensi terjadinya kerumunan pada penetapan daftar pemilih tetap (DPT) yang masuk tahapan Pilkada 2020. KPU dan aparat diminta mewaspadai adanya konflik. Selain itu, Wiku meminta pemerintah daerah meniadakan car free day (CFD) untuk menghindari adanya kerumunan masyarakat yang berolahraga.

"Pemda diharapkan meniadakan car free day dan menutup sarana olahraga massal, yaitu stadion, pusat kebugaran, dan kolam renang. Lebih baik berolahraga sendiri di lingkungan rumah," ujarnya.

Hotspot rawan penyebaran Corona kedua adalah yang terkait ekonomi. Kementerian/lembaga terkait diwajibkan menjamin penerapan protokol kesehatan secara ketat di fasilitas pelayanan transportasi umum. Ini mulai penumpang tiba di terminal, pelabuhan, atau bandara, ketika di dalam moda transportasi, serta ketika penumpang turun dari armada transportasi.

"Pengelola gedung swalayan, mal, dan pasar tradisional harus mengadakan sosialisasi serta pengawasan yang dibantu Satpol PP, kepada seluruh pedagang dan penyewa kios, untuk menerapkan protokol kesehatan saat melakukan transaksi dengan masyarakat," kata Wiku.

"Khusus antisipasi kerumunan pasar luar gedung, diperlukan pengelola pasar informal bekerja sama dengan organisasi masyarakat serta pemerintah setempat melalui RT/RW," sambungnya.

Untuk lokasi wisata, Wiku menyebut pemantauan protokol kesehatan harus dilakukan oleh dinas pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah. Ini dengan memperhatikan peraturan terkait operasi tempat wisata di masa pandemi.

Hotspot rawan penyebaran Corona ketiga adalah di lingkungan keluarga dan kerabat. Ada beberapa imbauan yang diberikan, mulai dari saat pergi keluar rumah, hingga disarankan agar acara keluarga yang tidak terlalu penting dihindari dulu.

"Upaya antisipasi kemunculan kerumunan keluarga dan kekerabatan. Perhatikan cara berkendara yang aman dengan tetap memperhatikan menggunakan masker dan meminimalkan isi penumpang dalam kendaraan. Serta menunda dulu acara keluarga yang tidak terlalu penting," papar Wiku.

Masyarakat diminta membatasi arus keluar-masuk untuk menjenguk keluarga atau kerabat. Di antaranya di sekolah asrama hingga lapas. Wiku menyarankan silaturahmi bisa dilakukan dengan media komunikasi daring sebagai alternatif.

Antisipasi di hotspot rawan penyebaran Corona lainnya adalah kemunculan kerumunan akibat bencana. Ini mengingat saat ini bencana alam sudah mulai banyak terjadi memasuki musim hujan.

"Usahakan tidak menggunakan tenda untuk evakuasi korban bencana alam dan memanfaatkan fasilitas penginapan maupun rumah yang tersedia untuk mencegah kerumunan," ucap Wiku.

Satgas pun menyarankan agar aksi demo dihindari. Penyampaian aspirasi disarankan dengan cara-cara menghindari kerumunan.

(elz/gbr)