Kota Madinah Kembali Ramai, Suhu Makin Dingin
Kamis, 19 Jan 2006 11:11 WIB
Madinah - Suasana Kota Madinah kini kembali hidup. Beberapa hari sebelumnya, saat puncak pelaksanaan ibadah haji, kota Madinah sangat sepi. Kini, sebagian jamaah haji mulai kembali mendatangi Madinah. Suasana Masjid Nabawi ramai kembali. Berbeda dari dua pekan lalu, suhu di Madinah kini makin rendah saja. Dingin sangat terasa menusuk tulang. Apalagi, angin kencang selalu menerjang, termasuk saat siang hari. Walaupun Matahari memancarkan sinarnya, namun dingin tetap terasa. Suhu saat dini hari, bisa di bawah 10 derajat Celcius. Pada Idul Adha lalu, suasana Madinah sangat sepi. Salat Idul Adha di Masjid Nabawi 10 Januari lalu juga hanya diisi oleh jamaah lokal, warga Arab Saudi. Pada saat itu, semua jamaah haji dari berbagai belahan dunia sedang berada di Muzdalifah dan Mina. Seusai puncak haji, kehidupan kota Madinah kembali berdetak. Jamaah haji dan para pedagang mulai kembali masuk ke Madinah. Hingga satu bulan ke depan, kota Madinah masih akan dipadati jamaah haji. Jamaah haji Indonesia gelombang II mulai berdatangan ke Madinah pada Kamis (19/1/2006). Kloter terakhir jamaah haji Indonesia akan meninggalkan Madinah pada 11 Februari 2006. Pemantauan reporter detikcom Arifin Asydhad, salat-salat berjamaah lima waktu di Masjid Nabawi sudah mulai dipadati jamaah haji. Bahkan, ruangan dalam masjid peninggalan Rasulullah Muhammad SAW ini mulai tampak penuh. Saat subuh, para jamaah tampak mengenakan pakaian-pakaian tebal dan jaket, karena udara sangat dingin. Lantai masjid juga terasa sangat dingin. Karena itu, banyak jamaah yang mengenakan kaos kaki atau sepatu dalam kulit. Hotel-hotel berbintang di sekitar Masjid Nabawi juga mulai dipadati jamaah haji plus dari berbagai negara, termasuk jamaah haji BPIH Khusus (ONH Plus) dari Indonesia. Pertokoan-pertokoan di sekitar Masjid Nabawi juga mulai dipenuhi oleh jamaah haji yang berbelanja. Para pedagang kaki lima juga membuka lapak-lapaknya. Di sejumlah titik, suasana di lapak-lapak pedagang kaki lima itu mirip pasar kaget. Harga-harga barang yang ditawarkan para pedagang lebih rendah dibanding sebelum pelaksanaan puncak ibadah haji.
(nrl/)











































