Cerita Benny Mamoto soal Target 14 Hari TGPF Usut Penembakan Pendeta

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 19:20 WIB
Benny Mamoto pria kelahiran Manado Sulawesi Utara yang sejak tahun 2009 menjabat sebagai direktur Badan Narkotika Nasional (BNN).
Benny Mamoto (Hasan Alhabshy/detikcom)
Intan Jaya -

Ketua investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya Benny Mamoto bercerita mengenai target yang diberikan oleh Menko Polhukam Mahfud Md terkait pengusutan kasus penembakan di Intan Jaya, Papua, termasuk Pendeta Yeremia Zanamban. Ia menyebut target 14 hari untuk mengusut kasus penembakan itu terbilang pendek.

"Semula ketika kami menerima mandat, terpikir oleh kami, 14 hari adalah waktu yang sangat pendek bila dihadapkan pada target yang harus kami hadapi. Kita semua tahu situasi medan di Papua, kita semua tahu tentang situasi di Papua," kata Benny saat jumpa pers secara daring, Sabtu (17/10/2020).

"Tapi ternyata Pak Menko telah menyusun tim yang terdiri dari representasi akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur kepolisian, TNI, kejaksaan, kemudian juga dari Polhukam sendiri," lanjutnya.

Benny menuturkan komitmen yang tinggi membuat tim menjadi solid sehingga mampu melakukan pelbagai kegiatan. Dikatakan Benny, komitmen itu dilakukan agar tim mampu mencapai target.

"Ternyata komitmen dari teman-teman yang tergabung dalam tim ini yang begitu tinggi, solid, dan penuh semangat. Itulah yang membuat 14 hari bisa dengan padat kita lakukan berbagai macam kegiatan dalam rangka mencapai target," tuturnya.

Benny mengatakan, selama waktu 14 hari itu, tim melakukan pengumpulan data, cross-check informasi, hingga audiensi dengan beberapa tokoh. Dengan tujuan agar kasus penembakan di Intan Jaya menjadi terang benderang.

Benny menyampaikan adanya perwakilan dari pelapor yang ikut dalam investigasi menjadi salah satu bentuk transparansi TGPF. Benny mengatakan timnya tidak membatasi dan mengarahkan pelapor. Semua diberi kebebasan menyampaikan informasi.

"Sepenuhnya kami beri kebebasan, sehingga tujuan untuk membuat terang peristiwa ini bisa tercapai," imbuhnya.

TGPF telah selesai bekerja dan akan melaporkan hasil temuannya kepada Menko Polhukam Mahfud Md pada Senin (19/10). Mahfud Md membentuk TGPF kasus penembakan di Intan Jaya atas permintaan Presiden Jokowi yang merespons surat dari Persekutuan Gereja Injil Indonesia (PGII) atas pembunuhan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani pada Sabtu (19/9).

TGPF Intan Jaya juga dibentuk untuk menyelidiki terkait rentetan penembakan yang terjadi di Intan Jaya. TGPF sudah berada di Timika sejak Rabu (7/10). Mereka lalu bergerak ke Sugapa guna mencari fakta-fakta penembakan yang menewaskan 2 anggota TNI, 1 warga sipil, dan 1 pendeta itu.

TGPF sempat dihadang dan ditembaki KKB setelah melakukan olah TKP. Dua orang terkena tembakan, yakni Satgas Apter Hitadipa Sertu Faisal Akbar. Dia mengalami luka tembak di pinggang dan dosen UGM yang masuk ke dalam TGPF, Bambang Purwoko, yang mengalami luka tembak di pergelangan kaki kiri dan pergelangan tangan kiri.

(isa/isa)