Cegah Kerusakan Lingkungan, Zonasi Danau Toba Harus Jelas

Cegah Kerusakan Lingkungan, Zonasi Danau Toba Harus Jelas

- detikNews
Kamis, 19 Jan 2006 00:47 WIB
Medan - Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi meminta agar ditetapkan zonasi yang jelas dalam penerapan budidaya perikanan di Danau Toba, Sumatera Utara (Sumut). Hal ini untuk mencegah kerusakan lingkungan. Potensi kerusakan sangat besar jika penanganannya tidak dilakukan sedari awal. "Kita harapkan danau toba ini perlu ada zonasi yang baik, diatur sedemikian rupa sehingga dikembangkan dengan baik, agar lapangan kerja jadi lebih terbuka. Namun, kelestarian lingkungan juga tetap menjadi yang utama karena pariwisata di sini tidak boleh hilang," kata Numberi.Pernyataan ini disampaikan Freddy Numberi saat meninjau pusat keramba apung PT Aquafarm Nusantara di Danau Toba, Parapat, Rabu (18/1/2006). Turut bersama menteri, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Made L. Nurdjane, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Martani Husaini. Keramba apung milik PT Aquafarm Nusantara, merupakan keramba Ikan Nila terbesar di Indonesia. Perusahaan asal Swiss tersebut memiliki 400 petak keramba jaring apung yang menghasilkan 75 ton-80 ton Ikan Nila kualitas ekspor per hari. Pada tahun 2005 lalu, nilai ekspornya mencapai US$ 24 juta, dengan tujuan pengiriman ke Eropa dan Amerika Serikat. Aquafarm baru menggunakan 7 hektar dari 30 hektar yang diizinkan untuk pengembangan keramba di Danau Toba. Areal tersebut dipakai untuk 1.200 keramba jaring apung dengan pembagian, 1.050 keramba unit pengolahan, 400 keramba ikan, dan 200 keramba pembibitan. Menurut Numberi, zonasi kawasan keramba apung di Danau Toba perlu dilakukan dengan benar, mengingat Danau Toba juga merupakan objek wisata utama Sumut. Operasional yang tidak ramah lingkungan akan sangat merugikan, tidak hanya dari sisi wisata, tetapi juga usaha budidaya tersebut."Harus ada pembatasan jumlah keramba perikanan di sini. Jangan sampai ada terlalu banyak keramba yang bisa berdampak pada kerusakan lingkungan," pinta Numberi.Danau Toba luasnya mencapai 1.102,60 kilometer persegi, dimanfaatkan sebagian warga sebagai tempat Keramba Jaring Apung (KJA), Sedikitnya ada sekitar 7.000 petani KJA di kawasan ini, terutama di Kawasan Haranggaol. Pada November 2004 lalu, puluhan juta ekor Ikan Mas yang dibudidaya warga ditemukan mati secara serentak akibat terserang virus koi herpes yang mengakibatkan kerugian miliaran rupiah. (ahm/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini