Dirut PT CMIT Hadapi Sidang Vonis terkait Korupsi Proyek Bakamla Hari Ini

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 16 Okt 2020 08:07 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi pengadilan (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Direktur Utama (Dirut) PT CMIT, Rahardjo Pratjihno hari ini akan menghadapi sidang vonis. Rahardjo akan divonis terkait kasus korupsi perangkat transportasi informasi terintegrasi (backbone coastal surveillance system) pada Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI.

"Hari ini sidang putusan terdakwa Rahardjo," ujar jaksa KPK, Taqdir Suhan kepada wartawan, Jumat (16/10/2020).

Sidang akan digelar di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat. Rencananya sidang dimulai pukul 09.00 WIB.

Dalam perkara ini, jaksa menuntut Rahardjo dengan hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp 600 juta subsider 6 bulan kurungan. Jaksa KPK menilai Rahardjo terbukti melakukan korupsi Rp 60 miliar dalam proyek di Bakamla RI.

Jaksa menilai Rahardjo terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah 'melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama'. Rahardjo dinilai melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam kasus ini, Rahardjo didakwa melakukan korupsi sebesar Rp 60 miliar dalam proyek perangkat transportasi informasi terintegrasi (backbone coastal surveillance system) pada Bakamla RI. Perbuatan Rahardjo merugikan negara Rp 63 miliar.

Perbuatan itu dilakukan bersama dengan Bambang Udoyo selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Bakamla RI, Leni Marlina selaku ketua unit pengadaan Bakamla RI dan Juli Amar Ma'ruf selaku anggota atau koordinator ULP Bakamla RI pada bulan Maret 2016 sampai Desember. Dalam dakwaannya, jaksa juga menyebut terdakwa melakukan korupsi bersama seorang bernama Ali Fahmi.

"Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi, yaitu memperkaya terdakwa selaku pemilik PT CMIT sebesar Rp 60.329.008.006, dan memperkaya Ali Fahmi alias Fahmi Al Habsyi sebesar Rp 3,5 miliar yang dapat merugikan keuangan negara sebesar Rp 63.829 miliar," ujar jaksa saat itu.

Dalam dakwaan, Fahmi disebut sebagai staf khusus di Bakamla. Nama Fahmi juga pernah disebut dalam sidang terdakwa lainnya terkait kasus ini.

(zap/mae)