KJRI Belum Diberi Akses Bertemu WNI Diduga Rencanakan Bom Bunuh Diri di Filipina

Eva Safitri - detikNews
Jumat, 16 Okt 2020 05:25 WIB
Kemenlu RI memastikan 14 anak buah kapal (ABK) Indonesia di kapal Long Xing milik China yang bersandar di Korea Selatan akan dipulangkan pada 8 Mei 2020. Kepulangan para awak kapal tersebut dilakukan setelah sebelumnya melewati proses karantina wajib.
Judha Nugraha (Foto: 20detik)
Jakarta -

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) belum mendapat identitas pasti terkait WNI yang ditangkap di Filipina karena diduga rencanakan bom bunuh diri. Kemlu masih menunggu respons Filipina untuk meminta akses kekonsuleran terkait identitas WNI tersebut.

"Terkait kasus di Filipina Selatan tersebut, KJRI Davao telah mengirimkan dua surat kepada otoritas Filipina mengenai permintaan data dan akses kekonsuleran untuk bertemu dengan RFR, yang diduga seorang WNI. KJRI Davao masih menunggu diberikannya data dan akses kekonsuleran tersebut," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kemlu RI, Judha Nugraha, ketika dihubungi, Kamis (15/10/2020).

Judha mengatakan verifikasi itu sangat diperlukan untuk memastikan kebenaran kalau perempuan yang ditangkap itu adalah WNI. Sebab menurutnya, perempuan itu tidak mengaku sebagai WNI ketika diinterogasi oleh otoritas Filipina.

"Data dan akses bertemu RFR sangat diperlukan untuk memverifikasi identitas dan kewarganegaraan, mengingat yang bersangkutan tidak mengaku sebagai seorang WNI ketika menjalani proses interogasi oleh aparat Filipina," ujarnya.

Sebelumnya, Judha mengatakan WNI berinisial RFR memang sudah tercatat dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh aparat keamanan setempat. Hal itu berkaitan dengan peristiwa bom di Kota Jolo pada 24 Agustus 2020 lalu.

"RFR sebelumnya terdaftar dalam pencarian orang oleh aparat setempat sebagai tindak lanjut hasil investigasi pasca-twin bombing di Kota Jolo 24 Agustus 2020," ujarnya.

WNI bernama Rezky Fantasya Rullie ditangkap dalam penggerebekan pada Sabtu (10/10) dini hari waktu setempat di Kota Jolo, Provinsi Sulu, Filipina. Rezky diyakini sebagai janda dari seorang militan asal Indonesia yang tewas di Sulu pada Agustus lalu.

Dilansir dari AFP, Disebutkan juga oleh Satuan Tugas Gabungan bahwa WNI ini juga diyakini sebagai anak perempuan dari dua pengebom bunuh diri yang menewaskan 21 orang di sebuah katedral Katolik di Jolo, tahun lalu. Serangan itu diduga didalangi oleh sebuah kelompok terkait militan Abu Sayyaf.

"Kami telah mengejar teroris asing pengebom bunuh diri di Sulu setelah ledakan bom kembar di kota Jolo (pada Agustus)," tutur Brigadir Jenderal William Gonzales dari Satuan Tugas Gabungan tersebut.

"Rullie menjadi yang pertama dalam daftar kami sejak kami menerima laporan intelijen bahwa dia akan melakukan (sebuah) bom bunuh diri," ungkapnya.

(eva/imk)