Kepulangan Jamaah Haji Aceh Tertunda 24 Jam!
Rabu, 18 Jan 2006 18:13 WIB
Jakarta - Jamaah haji Indonesia asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) kloter BTJ 03 mengalami kelambatan hampir 24 jam. Setelah BTJ 01 terlambat 14 jam, kini kloter 03 yang sedianya berangkat Selasa (17/1/2006) pukul 15.00 ditunda hingga Rabu (18/1/2006) jam 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS).Jamaah mengalami kedinginan dan kelelahan di tengah ketidakpastian sehingga salah seorang jamaah yang juga anggota DPRD Zunimar tidak dapat menunggu terlalu lama. Setelah sekian lama menunggu tanpa ada kejelasan, pihaknya merasa perlu mencari tahu di mana pangkal permasalahannya. Demikian dilansir informasihaji.com."Saya tahu persoalannya tidak di sini, tetapi di pihak penerbangan," katanya seperti ditirukan petugas lapangan di Subdaker Jeddah. Untuk itu pihaknya merasa perlu mencari alamat yang dapat dihubungi, siapa pihak-pihak yang paling berkompeten guna memberikan tanggung jawabnya.Jamaah sudah menunggu lama, tidak ada kejelasan sehingga kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi adalah makan malam. Selebihnya urusan penerbangan yang membutuhkan kesungguhan penanganan sehingga tidak mengakibatkan jamaah menjadi korban dan terlantar.Setelah mencari tahu diperoleh nomor telepon dan tersambung, namun baru satu langkah dari proses pemulangan yang dapat diatasi. Pihak penerbangan siap memberikan makan malam kepada seluruh jamaah, hal itu sudah menjadi tanggung jawab pihak penerbangan manakala terjadi kelambatan.Sedangkan jadwal keberangkatan ke Tanah Air masih membutuhkan konfirmasi, dijanjikan Rabu (18/1/2006) pukul 14.00 WAS. Untuk itu pihak penerbangan hendaknya tidak menunda lebih lama sehingga jamaah tidak menghadapi keterlambatan dalam waktu yang cukup lama. "Itupun kalau tidak ada perubahan lagi, soalnya hanya satu pesawat ulang alik untuk Debarkasi Banda Aceh," paparnya sambil menambahkan, satu pesawat yang akan digunakan untuk kloter Aceh baru berangkat dari NAD.Sementara itu, pembimbing ibadah sekaligus tokoh masyarakat Aceh Drs H Zuhardi Zain mengungkapkan, Garuda Indonesia harus memberikan perhatian khusus kepada jamaah haji Indonesia asal Nangroe Aceh Darussalam. Jangan sampai jamaah haji asal Aceh terus ditelantarkan baik jadwal kepulangan maupun hal lain berkaitan dengan pelayanan selama penerbangan."Aceh menjadi daerah modal bagi Indonesia, juga cikal-bakal Garuda Indonesia," paparnya sambil menambahkan masyarakat Aceh yang terdiri ibu-ibu mengumpulkan perhiasan untuk membeli pesawat terbang.
(nrl/)











































