Cerita Ketum IGI Ajari Guru Adaptasi Sistem Online

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikNews
Rabu, 14 Okt 2020 22:41 WIB
Webinar Samsung
Foto: Screenshot/detikcom
Jakarta -

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim mengatakan masa pandemi COVID-19 ini menjadi momentum tumbuhnya kesadaran guru akan pentingnya penggunaan teknologi dalam pendidikan. Menurutnya, dari data survei Kemendikbud, menunjukkan lebih dari 60% guru di Indonesia tidak punya kemampuan sama sekali menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

"Jadi jangankan mau canggih-canggih ya. Mau bikin komik, mau bikin video, atau bikin konten apa, menggunakan teknologi saja masih belum bisa. Jadi bagaimana kita berharap itu," ujar Ramli, dalam webinar 'Samsung Mobile Business Insight: The Next Normal Reshaping the Future Education', Rabu (14/10/2020).

Ramli mengatakan di awal-awal masa pandemi pihaknya di Ikatan Guru Indonesia (IGI) sibuk bukan hanya sekadar melayani siswa yang harus berpindah belajar dari sekolah ke rumah. Tetapi sibuk melayani guru-guru yang masih belum mengerti harus membuat apa untuk kegiatan sekolah virtual.

"Jadilah kemudian teman-teman itu bikin webinar di mana-mana. Yang penting bisa buka Zoom, klik saja yang penting bisa itu sudah mulai diajarin," ungkapnya.

Menurut Ramli, pada tiga bulan pertama pihaknya melatih dan membuat sekitar 1.458 pelatihan untuk para guru. "Itu tiga bulan pertama 300.000 guru terlibat. Dan kami bersyukur karena teman-teman IGI mendampingi mereka tidak hanya sekedar 1-2 jam pada saat webinar tapi bisa sampai sebulan dua bulan didampingi sampai mereka bisa menggunakan (teknologi) dalam pembelajaran mereka," jelasnya.

Ramli mengungkapkan saat pandemi ini para siswa juga menjadi stres, karena guru-guru mengirimkan soal dan tugas. Hal tersebut tentu berdampak kepada orang tuanya yang ikut menjadi stres, serta anak-anak tadi bisa menjadi korban bully dari orang tuanya.

"Mereka baru menyadari betapa pentingnya peran guru ketika masa pandemi COVID-19. Alhamdullilah ini (pengajaran teknologi) terus menerus kita jalankan. Dan ini menjadi kesempatan buat mengubah kawan-kawan kita. Yang tadinya tidak mau berubah dan tidak mau kenal teknologi, atau guru konservatif yang masih bertahan dengan apa yang ada itu kemudian bisa berubah," ungkapnya.

Ramli menyatakan sebagai guru yang tertantang karena COVID-19 sudah banyak hal yang dilakukannya. "Yang pertama, kalau mampu teknologi kita gunakan teknologi. Kalau ada jaringannya kita gunakan jaringan. Kalau tidak ada jaringan apa yang dilakukan? Kita melakukan program guru kunjung. Buat kami itu sesuatu yang melebihi batas pengabdian," ujarnya.

Ramli juga mengatakan pihaknya memberikan bantuan langsung tunai sebagai penghargaan kepada para guru yang sudah berjuang melebihi batas pengabdian. "Mereka sudah melakukan sesuatu yang lebih daripada apa yang seharusnya dilakukan. Mereka sebenarnya hanya perlu Zoom saja namun malah mendatangi siswa-siswa mereka," pungkasnya.

(prf/ega)