Kolom Hikmah

Memetik Manfaat 'Vaksin' dari Quran

Abdurachman - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 05:01 WIB
Abdurachman, guru besar UNair
Abdurachman (Foto: Dokumen pribadi)
Jakarta -

Absolutisme merupakan faham yang menjadi dasar pijakan Newton dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sesuai absolutisme, materi/fisik bersifat mutlak. Materi adalah materi sedangkan energi/nonfisik adalah energi. Keduanya terpisah satu dengan yang lain secara absolut, tidak bisa ditawar.

Sir Isaac Newton adalah ilmuwan berkebangsaan Inggris (1642- 1727), ahli matematika, tokoh fisika dan pakar astronomi. Ia dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan moderen. Newton menjadi sangat terkenal antara lain berkat pengembangan metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu metode yang menjadikan pengetahuan berubah menjadi ilmu pengetahuan. Metode ilmiah Newton dikembangkan berdasarkan faham absolutisme.

Berawal dari pengamatan terhadap efek fotolistrik. Juga didahului oleh penemuan Max Planck (1858-1947), pakar fisika teori berkebangsaan Jerman terhadap efek radiasi benda hitam (1900). Einstein (1879- 1955) menemukan ekivalensi antara energi dan materi. Sesuai Einstein materi tidaklah mutlak, demikian juga energi. Materi dan energi saling berkorelasi sesuai dengan formula relativitas E ≈ m C2. Formula Eintein mewakili faham relativisme.

Sesuai faham relativisme, materi adalah energi dan energi adalah materi. Faham relativisme sesuai dengan dualisme materi-energi.

Dualisme ini di dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan makna dzahir dan bathin. Setiap yang dzahir memiliki makna bathin. Demikian juga setiap yang bathin bisa diterjemahkan makna dzahirnya.

Dalam Agama Islam dzahir-bathin menjadi syarat dasar sah tidaknya keimanan seseorang. Surat al-Baqarah ayat 3 menyebutkan ciri orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan beramal berdasarkan imannya itu (taqwa), bahwa mereka beriman kepada yang ghaib. Ialah yang bathin, yang tidak 'bisa' diindra secara fisik. Jika diselaraskan dengan formula Einstein maka sisi bathin ini sesuai dengan makna nonmateri atau nonfisik.

Kata-kata atau kalimat yang keluar dari lisan seseorang masuk kepada sisi energi dalam formula Einstein. Sesuai faham relativisme maka kata-kata wajib memiliki makna materi.

Di dalam surat al-Hujurat (QS. 49), kalimat pada ayat 12 menerangkan secara jelas makna materi atau makna fisiknya. "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing (meng-ngibah) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

Sesuai ayat tersebut, orang yang melakukan ghibah, bermakna fisik sebagai seorang yang sedang memakan daging bangkai saudaranya. Ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain, sedangkan orang yang dibicarakan tidak berada di tempat pembicaraan.

Semua orang faham bahwa bangkai adalah materi yang tidak boleh dikonsumsi karena bisa menimbulkan kerusakan tubuh. Ia bersifat racun.

Kalau demikian maka, kata-kata yang diucapkan seseorang, sesuai hukum pasangan (Abdurachman, 2014), bisa bernilai racun atau bernilai gizi. Yang dimaksud bernilai gizi ialah kata-kata yang bernilai fisik sebagai suplemen bagi tubuh untuk meningkatkan kebugaran, menjadi vitamin bagi tubuh, bahkan ada kata-kata yang bernilai sebagai vaksin.

Kita bisa menyimak sebagian kalimat al-Quran yang antara lain berfungsi sebagai sarana perlindungan diri. Sarana demikian di dalam istilah medis serupa dengan makna vaksin. Ialah bahan yang dimasukkan ke dalam tubuh agar tubuh memiliki imunitas yang lebih tinggi, daya tangkal optimal terhadap penyakit. Ayat-ayat perlindungan di dalam al-Quran jika diterjemahkan makna fisiknya sesuai dengan makna vaksin. Sehingga ketika seseorang membaca ayat-ayat tersebut maka seakan-akan dia telah melakukan vaksinasi pada dirinya.

Sebagai contoh, surat al-Falaq (QS. 113). Surat ini merupakan salah satu surat yang digunakan untuk memohon perlindungan kepada Allah swt.
Dari Abu Abdullah ibnu Abis al-Juhani bahwa Nabi saw. pernah bersabda kepadanya, "Hai Ibnu Abis, maukah aku tunjukkan kepadamu tentang permohonan perlindungan yang paling baik." Ibnu Abis menjawab, "Tentu saja mau, ya Rasulullah." Rasulullah saw. bersabda: qul a 'uudzu birabbil falaq dan qul a'uuzu birabbin naas, keduanya adalah dua surat (Al-Qur'an). Hadits riwayat Imam an-Nasai.

Surat al-Falaq terdiri dari 5 ayat yang terjemah dalam bahasa Indonesianya;
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (1), dari kejahatan makhluk-Nya (2), dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3), dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul (4), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki"(5).

Ayat 2 surat ini menyebutkan permohonan perlindungan kepada Allah antara lain dari sisi jahat makhluk (apa saja) yang diciptakan-Nya. Virus SARS-Cov-2 temasuk makhluk ciptaan Tuhan. Sesuai dengan makna ayat tersebut, maka doa perlindungan yang dimaksud juga perlindungan terhadap penyebab Covid-19 ini.

Kalau demikian, surat al-Falaq jika dibaca, selain berfungsi sebagai doa, makna materinya sesuai dengan makna bahan vaksin yang membantu seseorang memiliki potensi imunitas yang optimal.

Rasulullah saw. membaca surat al-Falaq sebagai salah satu doa sebelum tidur.
Imam al-Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab shahihnya menyebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila menghampiri tempat tidurnya, beliau menyatukan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya, lalu membacakan pada keduanya, "Qul huwallahu ahad, Qul a'udzu birobbil falaq, Qul a'udzu birobbin naas." Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya yang dapat ia jangkau. Beliau mulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan itu tiga kali.

Kita bisa membacanya pada setiap rakaat shalat yang diijinkan membaca surat al-Quran di dalamnya. Bisa juga dibaca menjelang pagi (setelah shubuh) dan menjelang petang, sebelum maghrib. Bahkan bisa kita membacanya di setiap situasi yang memungkinkan kita membacanya. Bacaan demikian disebut dzikir. Sambil membacanya sambil ingat kepada Allah swt.

Semoga kita semua segera terbebas dari kejahatan penyebab pandemi ini antara lain dengan selalu membaca surat al-Falaq, aamiin.


Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)