Round-Up

Jaminan TGPF Intan Jaya Kerja Objektif Ungkap Penembakan Pendeta

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 14 Okt 2020 07:22 WIB
Jumpa pers Mahfud Md dan TGPF penembakan pendeta di Papua
Foto: Tiara Aliya Azzahra/detikcom / Jumpa pers Mahfud Md dan TGPF

Pakai Pendekatan Kultural

Mahfud menyebut tim besutannya menerapkan pendekatan kultural dalam menyelesaikan berbagai kendala di lapangan. Ini menjadi kunci suksesnya investigasi.

"Dulu itu sulit sekali aparat kita masuk, RS kita masuk, dokter kita masuk, sekarang tim kami berhasil karena tim kami memang pendekatannya lebih kultural," kata Mahfud MD.

Mahfud pun menjelaskan yang dimaksud dengan pendekatan kultural adalah melibatkan sejumlah tokoh masyarakat selama proses penyelidikan. Dalam hal ini, timnya dibantu oleh pendeta setempat.

"Kita dibantu pendeta setempat dan kemudian diberi pengertian betapa pentingnya mengungkap fakta tentang peristiwa pembunuhan itu," jelasnya.

Jenazah Pendeta Diautopsi

Mahfud menjelaskan, proses autopsi tersebut dilakukan demi kepentingan proses hukum atau pro justitia. Autopsi, kata dia, tak terkait dengan laporan hasil penyelidikan TGPF Intan Jaya.

"Untuk autopsi itu adalah untuk pro justitia jadi tidak harus menunggu tanggal 17 yang penting dalam rangka proses hukum, pengungkapan fakta hukumnya yang pro justitia keluarga ini setuju agar jenazah diautopsi. Yang pokok di situ," kata Mahfud Md

Istri Pendeta Diperiksa

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) telah memeriksa 25 saksi dalam mengungkap fakta di balik rentetan kasus penembakan di Intan Jaya, Papua. Mulai istri Pendeta Yeremia Zanambani, yang menjadi salah satu korban penembakan, hingga tenaga medis turut menjadi saksi atas kasus ini.

"Kemudian berkaitan dengan beberapa saksi kami periksa cukup banyak, sekitar 25 mungkin lebih. Pertama istri korban, kemudian dua saudaranya yang datang diminta lihat korban, kemudian saksi satu lagi pasca-peristiwa, tenaga medis yang dimintai bantuan untuk meng-handle korban," kata Ketua TGPF Benny Mamoto.

Dalam hal ini, TGPF pun turut memeriksa aparat yang saat itu mengevakuasi jenazah anggota TNI yang ditembak di Hitadipa. Adapun TGPF meminta keterangan terkait rute evakuasi yang ditempuh aparat saat itu.

"Kemudian aparat setempat yang pada saat itu melakukan kegiatan di sekitar Hitadipa karena waktu itu ada kegiatan evakuasi korban Sersan Sahlan pagi itu ditembak, kemudian mukanya dibacok dua kali itu akan dievakuasi sehingga perlu pengawalan, perlu rute itu diamankan. Nah, mereka semua sudah kita periksa, sudah diminta keterangannya. Jadi Kami menggali informasi dari proses penyelidikan yang berjalan, itu juga kita gali," ujarnya.


(imk/imk)