Serahkan Pada Pemerintah, MUI Minta Playboy Sadar
Rabu, 18 Jan 2006 12:00 WIB
Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerahkan sepenuhnya penerbitan majalan Playboy edisi Indonesia kepada pemerintah. Namun MUI minta pengelola majalah panas itu menyadari mereka hidup di Indonesia.Demikian disampaikan Ketua MUI A Nazri Adlani saat ditemui detikcom di Kantor MUI, Masjid Istiqlal, Jalan Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2006). Berikut petikan lengkap wawancara dengan Nazri:Bagaimana tanggapan MUI tentang akan terbitnya majalah Playboy edisi Indonesia? Kalau Playboy masuk Indonesia ya sudah. Tambah lebih parah lagi. Apa Indonesia ini mau menjadi negara Barat? Atau negara sekuler? Karena itu adalah paham-paham sekuler yang tidak memikirkan agama dalam hidupnya.Bagaimana saran MUI? Pasti kontra. Jangan dikeluarkanlah karena akan memperberat permasalahan khususnya umat Islam. Playboy masuk dalam kategori pornografi. Sudah sejak semula MUI turut andil dalam perjuangan diberlakukannya UU antipornografi dan pornoaksi yang sekarang masih dalam proses pembahasan di DPR.Dengan ada atau tidaknya UU ini pun, hal itu tak dapat diterima karena itu mendekati perzinaan. Bagaimana tindakan MUI sekarang?MUI menyerahkan segala tindakan kepada pemerintah. Karena sesuai kapasitasnya, MUI hanya dapat mengeluarkan fatwa yang menyatakan hal ini tidak sesuai dengan Islam. MUI juga dalam waktu sesingkat mungkin akan mengadakan pembahasan. Bagaimana kalau penerbitan Playboy menyebabkan kelompok tertentu melakukan kekerasan? Kepada ormas Islam, MUI menyarankan untuk tidak menggunakan cara-cara kekerasan karena Indonesia adalah negara hukum.Ada imbauan kepada Playboy?Kepada pelaku Playboy, kita imbau mereka menyadari, bangsa ini adalah bangsa yang sebagian besar umat Islam dan bermoral. Majalah Playboy adalah majalah amoral dan akan menjerumuskan generasi muda kepada perbuatan maksiat. Di negara Barat, Playboy juga ditentang. Tapi mereka berbeda sehingga mereka dibiarkan saja, dan bukan hanya umat Islam yang tidak setuju, agama lain juga pasti tidak setuju. Tapi Pak, katanya target pembaca Playboy akan terbatas?Indonesia ini kan begitu, katanya terbatas, nyatanya tidak terbatas. Sama saja dengan bioskop katanya 17 tahun ke atas nyatanya tidak juga.
(iy/)











































