Istri Pendeta Yeremia Ikut Diperiksa TGPF dalam Rentetan Kasus Penembakan

Tiara Aliya - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 12:06 WIB
Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Benny Josua Mamoto (Saiman/detikcom)
Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Benny Josua Mamoto (Saiman/detikcom)
Jakarta -

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) telah memeriksa 25 saksi dalam mengungkap fakta di balik rentetan kasus penembakan di Intan Jaya, Papua. Mulai istri Pendeta Yeremia Zanambani, yang menjadi salah satu korban penembakan, hingga tenaga medis turut menjadi saksi atas kasus ini.

"Kemudian berkaitan dengan beberapa saksi kami periksa cukup banyak, sekitar 25 mungkin lebih. Pertama istri korban, kemudian dua saudaranya yang datang diminta lihat korban, kemudian saksi satu lagi pasca-peristiwa, tenaga medis yang dimintai bantuan untuk meng-handle korban," kata Ketua TGPF Benny Mamoto di Kemenko Polhukam, Jl Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2020).

Untuk diketahui, tim TGPF bentukan Menko Polhukam Mahfud Md ini mengemban misi mencari fakta penembakan yang menewaskan 2 anggota TNI, 1 warga sipil, dan 1 pendeta bernama Yeremia Zanambani.

Dalam hal ini, TGPF pun turut memeriksa aparat yang saat itu mengevakuasi jenazah anggota TNI yang ditembak di Hitadipa. Adapun TGPF meminta keterangan terkait rute evakuasi yang ditempuh aparat saat itu.

"Kemudian aparat setempat yang pada saat itu melakukan kegiatan di sekitar Hitadipa karena waktu itu ada kegiatan evakuasi korban Sersan Sahlan pagi itu ditembak, kemudian mukanya dibacok dua kali itu akan dievakuasi sehingga perlu pengawalan, perlu rute itu diamankan. Nah, mereka semua sudah kita periksa, sudah diminta keterangannya. Jadi Kami menggali informasi dari proses penyelidikan yang berjalan, itu juga kita gali," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, TGPF Intan Jaya telah melakukan investigasi rentetan kasus penembakan yang menewaskan 2 anggota TNI, 1 orang warga sipil, dan 1 orang pendeta. Total sudah ada 25 saksi yang diperiksa.

Menko Polhukam Mahfud Md memberi tenggat kepada tim TGPF menyelesaikan laporannya hingga 17 Oktober mendatang. Mahfud pun mengatakan TGPF telah menuntaskan proses investigasi sesuai dengan target yang disusun sekalipun tim sempat dihadang berbagai rintangan dan teror di lapangan.

"Alhamdulillah semua target pencarian fakta itu meski dengan perintangan dan teror juga bahkan penghadangan itu sudah sesuai target yang dibawa dari Jakarta," ujar Mahfud di Kemenko Polhukam, Jl Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (13/10).

Seperti diketahui, TGPF penembakan di Intan Jaya, Papua, ditembaki KKB (kelompok kriminal bersenjata) saat melakukan penyelidikan. Rombongan dihadang dan ditembaki KKB setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Penembakan terjadi di daerah Kampung Mamba Bawah, Distrik Hipadita, Intan Jaya, Jumat (9/10) pukul 15.30 WIT. Saat itu TGPF sedang kembali dari Distrik Hitadipa menuju ke Sugapa.

Dalam kasus penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Intan Jaya, TGPF berhasil meyakinkan keluarga untuk menyetujui proses autopsi jenazah. TGPF juga berhasil membujuk keluarga untuk menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) dari polisi.

"Hari ini TGPF berhasil meyakinkan keluarga Pendeta Yeremia Zanambani untuk melakukan autopsi dan menandatangani BAP dari pihak kepolisian," kata Ketua TGPF Benny Mamoto dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (11/10).

Benny menuturkan sebelumnya keluarga menolak adanya autopsi. Setelah mengantongi izin dari keluarga, kepolisian akan segera melakukan pemeriksaan jenazah.

"Sebelumnya pihak keluarga korban tidak mau menandatangani BAP dari pihak kepolisian. Autopsi akan dilakukan pada kesempatan lain," jelasnya.

(elz/ear)