Terdakwa Kasus Jiwasraya Joko Hartono Juga Divonis Penjara Seumur Hidup

Zunita Putri - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 23:24 WIB
Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto menutup muka. (Rolandi FS/detikcom)
Foto: Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto, saat diperiksa Kejagung beberapa waktu lalu (Rolando FS/detikcom)
Jakarta -

Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto, terdakwa kasus korupsi Jiwasraya, divonis penjara seumur hidup. Joko terbukti melakukan korupsi dan memperkaya diri bekerja sama dengan Benny Tjokro dkk dan tiga pejabat PT Asuransi Jiwasraya senilai Rp 16 triliun.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Joko Hartono Tirto terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," kata ketua majelis hakim, Rosmina, di PN Topikor Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Senin (12/10/2020).

Joko terbukti melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Joko Hartono Tirto dengan pidana penjara seumur hidup," kata hakim.

Adapun hal yang memberatkan dalam diri Joko adalah menimbulkan kerugian dengan masyarakat banyak khususnya Jiwasraya, dan juga Joko dinilai menggunakan cara licik karena mendekati Hary Prasetyo. Sementara hal meringankan, Joko berlaku sopan dalam persidangan.

Hakim mengatakan Joko Hartono telah menerima uang sebesar Rp 2 miliar dalam perkara ini. Uang ini diberikan oleh Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram), Heru Hidayat dan Direktur Utama PT Himalaya Energi Perkasa, Piter Rasiman secara bertahap.

"Menimbang Joko Hartono Tirto berdasarkan fakta hukum telah menerima sesuatu terkait pengelolaan PT Asuransi Jiwasraya sebesar Rp 2 miliar yang diberikan Heru Hidayat dan Piter Rasiman secara bertahap," kata hakim.

Hakim menyebut perbuatan Joko Hartono bersama Benny Tjokro dan Heru Hidayat serta tiga mantan pejabat Jiwasraya telah menimbulkan kerugian negara. Dalam kasus ini, total kerugian negara adalah Rp 16 triliun.

"Menimbang berdasarkan hasil investigasi ditemukan kerugian negara terhadap investasi saham sejumlah Rp 4.650.283.375.000, dan kerugian negara atas investasi reksa dana senilai Rp 12,157 miliar, sehingga total kerugian negara secara keseluruhan Rp 16.807.283.375.000," tutur hakim.

"Menimbang dari pertimbangan di atas unsur kerugian negara telah terpenuhi pada perbuatan terdakwa," sambungnya.

Sebelumnya, jaksa menuntut Joko dengan penjara seumur hidup dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Jaksa menyebut perbuatan Joko bersama komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram) Heru Hidayat telah membuat negara merugi Rp 16 triliun.

"Bahwa perbuatan terdakwa bersama Benny Tjokro, Heru Hidayat, Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo, dan Syahmirwan telah merugikan negara Rp 16.807.283.375.000,00," kata jaksa dalam surat tuntutan kala itu.

(zap/jbr)