300 Warga Terdampak Banjir-Longsor Ciganjur, 169 Orang Ngungsi

Tiara Aliya - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 18:13 WIB
Warga Ngungsi Imbas Banjir dan Longsor Ciganjur
Warga Ngungsi Imbas Banjir dan Longsor Ciganjur (Tiara/detikcom)
Jakarta - Sebanyak 300 orang warga terkena dampak banjir dan tanah longsor yang terjadi di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mereka yang terdampak terdiri atas orang dewasa, lansia, hingga balita.

Berdasarkan data posko pengungsian RT 4 RW 2 Ciganjur, Jakarta Selatan, yang diterima detikcom, dari 300 orang tersebut, sebanyak 131 warga memilih untuk menetap di rumah masing-masing. Sisanya, sebanyak 169 warga memilih berpindah ke pengungsian.

Warga yang mengungsi tersebar di tiga lokasi pengungsian, terdiri atas posko pendopo yang ditempati 35 pengungsi, posko yang berlokasi di Jalan Sadar 4 sebanyak 104 pengungsi, dan posko di salah satu rumah warga sebanyak 30 pengungsi.

Ketua Tim Posko Logistik Eka Susilawati menyebut jumlah ini belum mencakup keseluruhan warga yang terkena dampak. Selain di posko-posko yang disediakan, masih ada warga yang menetap di rumah kerabatnya.

"Pengungsian dalam arti kata bukan pengungsian di posko kami, jadi posko ada beberapa dan mereka ada di berbagai tempat bahkan di kelurahan Cimpedak dia mengungsi di rumah keluarganya. Itu yang susah kami deteksi," ungkap Eka kepada detikcom saat ditemui di posko pendopo di Ciganjur, Jakarta Selatan, Senin (12/10/2020).

Data Pengungsi Banjir dan Longsor JakartaData Pengungsi Banjir dan Longsor Jakarta (Tiara/detikcom)

Eka mengatakan pihaknya kesulitan dalam mendata warga terdampak. Sebab, sejumlah dokumen yang berada di rumah RT terendam banjir.

"Karena Pak RT-nya sendiri kasihan, capek, mungkin lelah Pak RT sendiri kebanjiran dia nggak bisa ngasih data karena data dia data ke-RT-annya semuanya habis, basah, jadi dia nggak punya data lengkap," ungkapnya.

Selain itu, Eka menyebut ada kesulitan sendiri di posko pengungsian selama pandemi Corona. Terutama dalam mengatur jarak aman antar-pengungsi untuk mencegah penularan virus Corona.

"Biasalah masyarakat susah diatur physical distancing menggunakan masker. Ibu makanya suara sampai serak teriak teriak karena seperti itu, mengingatkan mereka, kita itu bencana di tengah pandemi kan yang sangat sulit sekali karena kita bencana di tengah pandemi. Kalau tidak di tengah pandemi mungkin nggak masalah ya. Ke mana-mana orang tua tuh kadang sulit sekali diingatkan pakai masker, hilang lah, apa lah, kadang lupa lah," ungkapnya. (knv/knv)