Pakar Bandingkan Remdesivir Vs Obat Generik Murah Cegah Kematian COVID-19

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 10 Okt 2020 16:26 WIB
Medication prepared for people affected by Covid-19, Remdesivir is a selective antiviral prophylactic against virus that is already in experimental use, conceptual image
Ilustrasi (iStock)
Jakarta -

Indonesia telah menggunakan remdesivir sebagai obat untuk pasien dalam perawatan. Menurut pakar, obat generik yang lebih murah justru bisa menurunkan potensi kematian pasien COVID-19.

"Berdasarkan penelitian hingga saat ini, untuk pasien COVID-19 yang sangat kritis, remdesivir tidak mungkin mengubah kelangsungan hidup (mencegah kematian) atau kebutuhan ventilasi mekanis," kata dr Dicky Budiman kepada detikcom, Sabtu (10/10/2020).

Dicky adalah dokter sekaligus epidemiolog lulusan dokter umum Universitas Padjadjaran, master epidemiologi Universitas Griffith Australia, dan pernah menjadi Kepala Kerja Sama Teknik dan Perjanjian Internasional Biro Perencanaan Kementerian Kesehatan serta pernah menjadi Kepala Kerja Sama Bilateral Pusat Kerja Sama Luar Negeri Kemenkes. Dia juga pernah menjadi Sekretaris Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI.

Soal remdesivir sebagai obat COVID-19, Dicky merujuk pada laporan akhir uji coba remdesivir yang diterbitkan The New England Journal of Medicine. Pasien yang menerima remdesivir memiliki waktu pemulihan rata-rata 10 hari dibandingkan 15 hari pada kelompok plasebo. Namun perbedaan kematian tidak signifikan secara statistik pada hari ke-15 dan ke-29.

Pada hari ke-15, angka kematian pasien adalah 6,7 persen (remdesivir) dan 11,9 persen (plasebo); pada hari ke-29, tingkat kematian adalah 11,4 persen (remdesivir) dan 15,2 persen (plasebo).

"Pasien berusia 18-40 tahun dan mereka yang memiliki gejala kurang dari 10 hari sebelum pengobatan dimulai adalah yang paling mungkin mendapat manfaat dari remdesivir," kata Dicky.

Tonton juga video 'Pesan RK ke Jokowi: Latih TNI-Polri Untuk Bisa Suntik Vaksin':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2