Menantu Eks Dirut BTN Jadi Tersangka Baru Kasus Gratifikasi, Langsung Ditahan

Wilda Nufus - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 21:26 WIB
Menantu Eks Dirut BTN Maryono, Widi Kusuma Purwanto, Jadi Tersangka Kasus Gratifikasi
Menantu Eks Dirut BTN Maryono, Widi Kusuma Purwanto, (Foto: Wilda/detikcom)
Jakarta -

Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan dua tersangka baru dalam perkara dugaan gratifikasi terhadap mantan Direktur Utama (Dirut) BTN, H Maryono. Tersangka anyar itu merupakan menantu dari Maryono, Widi Kusuma Purwanto dan Komisaris PT Titanium Property, Ichsan Hasan.

"Penyidik menetapkan kembali 2 tersangka baru yang terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji, yaitu WKP Direktur Keuangan PT Megapolitan Smart Service menantu HM dan Komisaris PT Titanium Property IH," kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah kepada wartawan di Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (9/10/2020).

Febrie menerangkan rekening Widi Kusuma digunakan untuk melakukan dugaan gratifikasi oleh H Maryono. Hal ini terjadi pada kurun waktu 2013 sampai dengan 2015.

"Bahwa dalam kurun waktu 2013 sampai dengan tahun 2015 diduga Maryono selaku Direktur Utama PT BTN periode tahun 2012-2019 telah menerima hadiah atau janji atau suap atau gratifikasi berupa uang melalui rekening bank atas nama WKP yang merupakan menantu Maryono," katanya.

Komisaris PT Titanium Property, Ichsan Hasan, Jadi Tersangka Kasus GratifikasiKomisaris PT Titanium Property, Ichsan Hasan, Jadi Tersangka Kasus Gratifikasi Foto: Wilda/detikcom

Febrie juga menjelaskan ada transaksi mencurigakan yang dilakukan Ichsan Hasan selaku Komisaris PT Titanium Property. Transaksi ini ditujukan kepada Widi Kusuma yang menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Megapolitan Smart Service.

"Bahwa terdapat beberapa transaksi keuangan yang mencurigakan dari PT Titanium Property yang dalam hal ini dilakukan oleh IH selaku Komisaris PT Titanium Property yang ditujukan pada WKP selaku Direktur Keuangan PT Megapolitan Smart Service yang notabene menantu Maryono total transaksi sebesar Rp 870.000.000," ucapnya.

Widi Kusuma disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b, atau Pasal 5 ayat (2) juncto ayat (1) huruf a atau b, atau Pasal 11 Undang-undang RI Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke (1) KUHP.

Sementara itu, Ichsan Hasan disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a dan b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kedua tersangka dilakukan penahanan selama 20 hari terhitung sejak hari ini. Untuk tersangka Widi, ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung dan Ichsan Hasan ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

"WKP di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung, IH Rutan Salemba Cabang Kejari Jakarta Selatan," tuturnya.

Diketahui dalam kasus gratifikasi, Kejagung telah menetapkan Mantan Dirut BTN H Maryono dan Direktur Utama PT Pelangi Putera Mandiri Yunan Anwar sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi berupa gratifikasi.

Yunan diduga telah menyuap Maryono terkait dengan pemberian fasilitas kredit dan pencairan kredit dari BTN kepada PT Pelangi Putera Mandiri.

Hari menerangkan kasus ini bermula pada 2014 saat PT Pelangi Putra Mandiri mengajukan kredit ke Bank BTN senilai Rp 117 miliar. Dalam perjalanannya, kredit ini bermasalah dan mengalami kolektibilitas 5 atau macet.

"Ternyata diduga, dalam pemberian fasilitas kredit tersebut ada dugaan gratifikasi atau pemberian kepada tersangka atas nama HM, yang dilakukan oleh YA senilai Rp 2,257 miliar caranya dengan mentransfer uang itu melalui rekening menantu dari tersangka HM," lanjut Hari.

Kemudian, kata Hari, pada 2013, tersangka H Maryono yang menjabat sebagai Direktur Utama Bank BTN itupun juga menyetujui pemberian kredit pada PT Titanium Property senilai Rp 160 miliar. Saat itulah, terjadi deal-dealan sehingga pihak PT Titanium Property memberikan gratifikasi senilai Rp 870 juta dan ditransfer lewat menantu H Maryono, Widi Kusuma Purwanto.

"Tersangka HM itu pada tahun 2013 selaku Direktur Utama itu juga menyetujui tentang pemberian kredit kepada PT Titanium Property senilai Rp 160 miliar dan diduga dalam pemberian fasilitas kredit tersebut, pihak PT Titanium Property memberikan uang atau gratifikasi senilai Rp 870 juta dengan cara yang sama, ditransfer ke rekening menantunya atas nama tersangka HM," tuturnya.

Tersangka H Maryono disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b, atau Pasal 5 ayat (2) juncto ayat (1) huruf a atau b, atau Pasal 11 Undang-undang RI Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke (1) KUHP.

Sedangkan tersangka Yunan Anwar disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-undang RI Nomor 31 tahun 1991 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(knv/knv)