Etika Politik dalam Al Quran (17)

Menciptakan Rasa Aman

Prof Nasaruddin Umar - detikNews
Kamis, 08 Okt 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/Etika Politik dalam Al Quran
Jakarta -

Menciptakan rasa aman kepada seluruh warga masyarakat tanpa membedakan kelompok agama, aliran, mazhab, etnik, dan kewarganegaraan salah satu misi pokok yang disampaikan Al Quran. Al Quran banyak memberikan contoh pemberian salam kepada berbagai kelompok. Itu artinya menghembuskan energi positif kepada semua orang sama dengan melahirkan rasa aman kepada kelompok masyarakat tersebut. Di antara ayat itu ialah: Wahai orang-orang yang telah beriman, janganlah memasuki rumah-rumah selain dari rumah kamu, sehingga kamu meminta izin dahulu dan memberi salam kepada penghuninya; itu lebih baik bagi kamu, mudah-mudahan kamu mengingat/Quran: al-Hujurat/24:27). Sebaliknya Al-Qur'an banyak melarang untuk mengembuskan energi negatif di dalam masyarakat, sebagaimana bisa di lihat dalam Q.S. Al-Hujurat43, hampir semua isinya menyerukan orang untuk menegakkan rasa aman dan mencegah lahirnya phobia di dalam masyarakat.

Dalam hadis Nabi juga pernah ditegaskan: "Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu" (HR. Muslim). Hadis ini sejalan dengan ayat: "Dan jika dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan dengan yang lebih baik dari padanya (yang serupa)." (Q.S. al-Nisa'/4:86). Sebuah riwayat dari Ama'binti Abi Bakar
(W.73H) bertanya kepada Nabi perihal kedatangan ibunya yang masih bersatatus non-muslim. Apakah boleh menyambut dan bersilaturrahim dengannya, lalu Nabi menjawab: "Sambutlah ubu dan bersilaturrahimlah dengannya". (HR. Bukhari dan Muslim). Riwayat lain dari 'Aisyah ra (W.58H) menceritakan sekelompok Yahudi datang kepada Nabi sambil mengatakan: "Assalamu alaikum" (kebinasaan atasmu), lalu Aisyah menjawab: "Waalaikumussam wa al-la'nah" (atasmu juga kebinasaan dan laknat). Mendengarkan isterinya menjawab salam seperti itu, maka Nabi menegur: Pelan-pelan wahai Aisyah, sesungguhnya Swt menyukai kelembutan dalam setiap perkara". Aisyah membela: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakana kepadamu?" Nabi menjawab: "Engkau telah menjawab dengan kata wa'alaikumussam". (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam satu riwayat juga disebutkan Umar ibn Khaththab pernah disalami seorang non-muslim dalam perjalanan di tengah padang pasir. Salam orang itu ialah: Asamu alaikum (kebinasaan atas kalian). Umar menghunus pedangnya dan membunuh orang itu. Sahabat yang menyertainya kaget dan bertanya, kenapa engkau membunuh orang yang menyalamimu? Umar menjelaskan, apakah kalian tidak perhatikan ucapannya yang mengatakan: Assamu alaikum? Dari keterangan dalil-dalil di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah memberi salam atau menerima salam kepada atau dari umat non-muslim, jika itu dengan niat yang baik serta sesuai ucapan salam yang lumrah diucapkan, seperti ucapan salam yang bersifat generic, umum, atau salam universal, semisal Selamt Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam, dan Salam Sejahtera. Namun perbedaan pendapat muncul manakala memberi salam dengan menggunakan simbol salam agama masing-masing untuk komunitas lain.

Sebagian ulama berpendapat boleh memberi atau menjawab salam dengan salam standard muslim kepada atau dari umat non-muslim dengan keyakinan makna generic salam itu adalah salam universal. Apalagi lafad: "Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh" yang dianggap sudah menjadi salam nasional untuk bangsa Indonesia. Sebagian lagi berpendapat tidak boleh karena itu khas untuk umat Islam. Kelompok lain berpendapat boleh jika ada dalam satu pertemuan di dalamnya ada orang Islam. Perbedaan pendapat muncul apakah umat Islam boleh memulai menyampaikan salam kepada orang-orang non-muslim? Sebagian ulama seperti Ibn Qayyim, Imam Al-Qurtubi, Ibnu Hajar al-'Asqallani, Imam Al Qaradawi, dan Yusuf Qardhawi membolehkan umat Islam mendahului memberi salam kepada orang-orang non-muslim. Alasannya antara lain ayat dalam al-Qur'an: "Allah tidak melarang kamu kalian berbakti kepada mereka yang tidak memerangi dan tidak mengeluarkan kamu kalian daripada rumah-rumah kamu". (Q.S. al- Mumtahanah/60:8) dan "Di antara melakukan kebaikan adalah memberi salam kepada mereka",(Q.S. Maryam/19:47), yakni Nabi Ibrahim memberi salam kepada ayahnya yang non-muslim.

(nwy/nwy)