Belum Diberitahu SBY, Djoko Soeyanto Siap Jadi Panglima TNI
Selasa, 17 Jan 2006 12:42 WIB
Jakarta -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata belum memberitahu Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Djoko Soeyanto. Namun Soeyanto menyatakan siap menjadi Panglima TNI."Siap. TNI kan harus siap di mana pun dan kapan pun," kata Soeyanto ketika bertemu dengan wartawan di Mabes TNI AU Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (17/1/2006). Berikut petikan wawancara dengan Soeyanto:Bagaimana Pak mengenai pencalonan Panglima TNI. Sejauh ini apakah sudah ada pesan dari presiden?Belum. Saya belum ditelepon. Saya belum ketemu dan beliau (SBY) belum bicara dengan saya.Apakah Komisi I DPR sudah menghubungi? Belum. Belum. Sekarang saya belum bisa bicara apa-apa. Bapak Presiden belum memanggil saya. Belum memberikan tugas apa yang harus saya kerjakan.Dari Panglima TNI bagaimana? Ada komunikasi tidak?Komunikasi sih ada, saya KSAU dan dia Panglima TNI.Kalau begitu sudah siap dengan fit and proper test di DPR?DPR saja belum ngasih tahu saya. Tapi bahwa yang ada di koran, di TV paling tidak memberikan input kepada saya. Tidak mungkin saya terjun bebas.Ada Komisi yang mengajukan nama lain di DPR?Itu dinamika di Komisi I. Saya kira harus ada dinamika.Jadi siap dengan fit and proper test Pak?Insya Allah. Kita dengar pendapat dengan DPR kan sudah sering. Siap. TNI kan harus siap di mana pun dan kapan pun.Sudah ada surat pengajuan Presiden ke DPR kan?Saya tahunya dari koran.Kenapa kemarin banyak diam Pak? Apa tidak enak dengan kandidat lain?Tidak. Kalau kemarin saya diam, itu karena saya flu berat. Saya baru pulang (haji) hari Minggu.Bagaimana hubungan dengan kandidat lain?Oh tetap, tetap. Ryamizard Ryacudu (mantan KSAD, calon Panglima TNI yang diajukan Presiden Megawati) kan teman saya. Masuk Magelang (Akmil) kan sama-sama. Saya secara pribadi tidak boleh itu (hubungan) menjadi lain.Kalau nanti dipolitisir antara bapak dengan Ryamizard?Nggak. Nggak. TNI tak boleh berpolitik. Jangan dipolitisasi.Rencana ke depan apa?Menjadikan TNI profesional di bidang masing-masing sesuai dengan keahliannya, bukan menjadi bayaran. Selama ini program TNI itu terbentur anggaran, tapi dengan anggaran yang ada bagaimana kita bisa memaksimalkan program-program yang ada.
(iy/)










































