Agum Mengaku Pernah Dikatai Gus Dur Pengecut, Kenapa?

Deden Gunawan, Sudrajat - detikNews
Selasa, 06 Okt 2020 09:55 WIB
blak-blakan agum gumelar
Ketua Umum Pepabri Jenderal (Purn) Agum Gumelar (ilustrasi: 20Detik)
Jakarta -

Saat menjabat Gubernur Lemhanas, Letjen TNI Agum Gumelar diminta Presiden KH Abudrrahman Wahid (Gus Dur) masuk kabinet. Semula dia ditugasi menjadi Menteri Perhubungan. Ketika hubungan Presiden dengan DPR memburuk terkait Pansus Buloggate, pada pengujung Mei 2001 Agum dipanggil ke Istana Negara.

"Saat itu saya diajak makan malam sambil ngobrol ngalor-ngidul. Setelah selama satu jam tiba-tiba Gus Dur bilang, 'Pak Agum, besok Pak Agum gantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)," tutur Agum dalam Blak-blakan di detik.com, Senin (5/10/2020).


Dia diminta merangkap jabatan sebagai Menko bidang Politik, Sosial, dan Keamanan (Polsoskam). Sepertinya Gus Dur sudah tak sejalan lagi dengan SBY yang menolak rencana Dekrit Presiden. Agum mengaku kaget, dan meminta penjelasan ikhwal pergantian tersebut. "Tapi Gus Dur selalu bilang, 'pokoknya', ya sudah," ujar Agum.

Sebetulnya, sikap Agum sebagai Jenderal terkait Dekrit Presiden tak berbeda dengan SBY. Dia menganalisa dekrit bukan solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik dengan DPR. Sebaliknya, dekrit justru akan berujung perpecahan sesama anak bangsa. Bisa berujung pertumpahan darah. Di sisi lain, Presiden Gus Dur dan sejumlah loyalisnya bersikukuh dengan sikapnya terkait dekrit.

Sebagai Menko Polsuskam, pada 22 Juli, Agum Gumelar memanggil Panglima TNI Laksamaan Widodo AS, serta tiga kepala staf angkatan: darat, laut, dan udara. Intinya, sikap mereka solid untuk menjaga keutuhan bangsa. Begitupun Kapolri Jenderal S. Bimantoro dan Komjen Chairudin Ismail.


Pada malam harinya dia ke Istana bersama Panglima TNI. Agum menggambarkan suasana di sana kala itu sudah seperti pasar malam, ramai sekali. Tak cuma para menteri dan politisi pendukung utama Gus Dur, para aktivis LSM pun ikut berkumpul di sana. "Ada yang sarungan juga," ujarnya.

Rupanya malam itu Gus Dur sudah bulat untuk menyampaikan Dekrit. Isinya antara lain membubarkan DPR dan Partai Golkar. Ketika suasana hening, Agum pindah duduk ke kursi kosong di samping Gus Dur. Dengan hati-hati dia menyampaikan pandangannya terkait implikasi Dekrit yang dikeluarkan.

"Tapi Gus Dur malah menggebrak meja, marah sekali. Saya dikatakan pengecut, banci, wah...pokoknya. Dua kali dia membentak saya," tutur Agum.

Alhasil, Dekrit Presiden itulah yang mempercepat pelengseran Gus Dur. Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001 resmi menjatuhkan Gus Dur, dan mengangkat Megawati sebagai Presiden.

Toh begitu, hubungan Agum dan Gus Dur tetap baik. Sekitar dua bulan setelah lengser, Gus Dur mengajak Agum makan bersama di Bima Sena, Hotel Dharmawangsa. "Pengawal Gus Dur yang dari Kopassus bercerita kalau Gus Dur pernah mengungkapkan andai dia menuruti nasihat Agum terkait Dekrit," tutur Agum Gumelar.

(jat/jat)