Biar Kapok! 18 Remaja Tawuran Ditantang Uji Nyali-Dihukum Cium Kaki Ibu

Yogi - detikNews
Jumat, 02 Okt 2020 22:36 WIB
Biar Kapok! 18 Remaja Tawuran Dihukum Cuci Kaki Ibu-Ditantang Uji Nyali
Para remaja tawuran di Palmerah dihukum cium kaki ibu. (Dok.Polsek Palmerah)
Jakarta -

Polsek Palmerah melakukan pendekatan unik untuk menyadarkan anak-anak remaja yang sering tawuran. Polisi menghukum mereka dengan tantangan uji nyali di gedung angker hingga diminta mencuci kaki ibu.

Adalah Wakapolsek Palmerah AKP Bachrun yang menginisiasi ide tersebut. Bachrun memberikan hukuman yang berbeda agar para remaja menyesali dan tidak mengulangi perbuatannya.

"Ceritanya gini, saya juga yang ngomong itu. Di belakang (gedung Polsek Palmerah) kan ada gedung tinggi, saya bilang kalian jangan berani tawuran aja, tawuran kan banyak temen, coba sekarang kamu berdiri saya tantang. Tantangannya ini di belakang ada gedung tinggi, ini gedung Belanda," kata Bachrun ketika dihubungi detikcom, Jumat (2/10/2020).

Gedung yang dimaksud adalah Gedong Tinggi, bekas peninggalan Belanda. Gedong Tinggi merupakan vila milik pejabat tinggi VOC Andries Hartsinck yang kini dipergunakan sebagai bagian dari gedung Polsek Palmerah. Bangunan tersebut memang terkenal angker.

Ia menantang para remaja tinggal di Gedong Tinggi untuk membuktikan para remaja tersebut benar-benar mempunyai keberanian. Tapi, seluruh remaja itu tidak ada yang menyanggupi tantangan yang dilontarkan oleh polisi tersebut.

"Sekarang ini kan hari Kamis (kemarin, red) malamnya malam Jumat, sekarang siapa yang berani duduk di atas sendirian saya gelapin hanya bermodal lilin, duduk antara jam 1 sampai jam 4 pagi. Nanti saya pantau dari luar kalau kamu kuat duduk, melek nggak tidur, nah itu baru kamu jagoan, saya bilang gitu. Jangan kamu berani tawuran banyak, sendiri berani nggak. Tapi nggak ada yang berani," tuturnya.

Setelah tantangan uji nyali tidak ada yang sanggup menerima, Bachrun akhirnya menghukum para remaja itu untuk sungkem dan mencuci kaki ibu. Ini dilakukan Bachrun untuk mengingatkan para remaja bahwa orang tua mereka menyayangi mereka dan tidak mau kehilangan anak-anaknya karena tawuran.

"Ini memang ide saya, jujur, maksud saya kasih arahan (anak-anak) pada keluar malam sudah izin belum ke ibunya yang nyariin. Nah sekarang kemungkinan juga (pelaku) kurang bakti ke orang tua, ingat surga ada di telapak kaki ibu," jelas Bachrun.

Pendekatan emosional itu dilakukan agar para remaja menyadari betapa sayangnya para orang tua terhadap anak-anaknya. Para orang tua tidak ingin anak-anaknya meninggal sia-sia karena tawuran.

Selanjutnya
Halaman
1 2