Round-Up

Kasat Resign Gegara Dimaki Jadi Atensi Mabes Polri Hingga DPR RI

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 02 Okt 2020 07:54 WIB
kasat sabhara polres blitar
Foto: Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo (Hilda Meilisa Rinanda/detikcom)
Jakarta -

Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo mengundurkan diri (resign) sebagai polisi lantaran kecewa pada komandannya, Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani Prasetyo. Agus merasa Ahmad Fanani bertindak arogan dan tak dapat ditolerir lagi oleh dirinya.

Agus bertolak ke Polda Jawa Timur dan membawa surat resign yang ditujukan kepada Kapolda Jatim, Irjen Fadil Imran dengan tembusan ke Kapolri, Jenderal Idham Azis. Agus menyebut sikapnya ini merupakan akumulasi dari rekan sekerjanya yang lain.

"Jadi saya datang ke Polda Jatim saya sengaja mengirim surat pengunduran diri saya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Jadi hari ini saya resmi mengundurkan diri kepada Bapak Kapolda, nanti tembusannya Bapak Kapolri dan lain-lain. Hari ini sudah saya ajukan tinggal tunggu proses lebih lanjut," kata Agus saat ditemui di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Kamis (1/10/2020).

"Alasan saya mengundurkan diri karena saya tidak terima. Hati saya tidak bisa menerima selaku manusia dengan arogansi kapolres saya. Sebenarnya ini akumulasi dari senior saya. Akumulasi kasat yang lain," imbuhnya.

Agus bercerita soal Ahmad Fanani yang disebutnya kerap memaki anak buah dengan kalimat kasar, seperti menyamakan anak buahnya dengan binatang dan waria. Agus tak menemukan sikap polisi penagyom, pelindung dan pelayan masyarakat di diri Ahmad Fanani.

"Namanya manusia tentu ada kelebihan dan kekurangan. Setiap beliau marah, ada yang tidak cocok itu maki-makian kasar yang diucapkan. Mohon maaf, kadang sampai menyebut binatang, bajingan dan lain-lain. Yang terakhir, sama saya sebenarnya tidak separah itu. Hanya mengatakan bencong, tidak berguna, banci, lemah, dan lain-lain," ungkap Agus.

Bahkan, Agus menyebut Kapolres sering mencopot jabatan seorang anggota jika ada yang melakukan kesalahan, tanpa dilakukan pembinaan.

"Namanya manusia tentu ada kelebihan dan kekurangan. Setiap beliau marah, ada yang tidak cocok itu maki-makian kasar yang diucapkan. Mohon maaf, kadang sampai menyebut binatang, bajingan dan lain-lain. Yang terakhir, sama saya sebenarnya tidak separah itu. Hanya mengatakan bencong, tidak berguna, banci, lemah, dan lain-lain," ungkap Agus.

"Yang jelas iya (ada tekanan psikis). Kita kan sudah sama-sama bekerja setiap hari siang dan malam demi masyarakat kita dalam memutus mata rantai COVID-19. Bahkan Kapolres tidak ada arahan apapun, tapi jika tidak benar langsung seperti itu. Sebenernya kan kalau salah dibina, bukan dimaki terus-terusan. Kadang main copot jabatan. Emangnya kalau copot orang itu bisa lebih baik? Belum tentu kan?," sambung Agus.

Usai memberikan surat pengunduran dirinya kepada Kapolda Jatim, Agus tak kuasa menahan tangis karena teringat kekhawatiran istri bila dia melepas pangkat dan jabatannya sebagai polisi. Kepada istrinya, Agus sempat meminta maaf atas keputusannya ini dan menjelaskan keputusannya ini mulia di hadapan Allah.

"Untuk istri saya, saya mohon maaf, saya terpaksa mengundurkan diri. Percayalah kita masih bisa makan dengan garam, kita masih bisa makan dengan garam tapi kita mulia di hadapan Allah SWT. Mohon maaf kalau saya agak emosi. Mohon maaf kepada istri saya, kita masih bisa makan dengan garam, kenapa kita harus takut?," tutur Agus sembari dengan mata berkaca-kaca.

Tak hanya itu, dengan menyerahkan surat pengunduran diri ini, Agus mengaku sudah siap dengan segala risiko. Salah satunya, dalam surat pengunduran diri, Agus tidak menuntut Polri.

"Saya sudah siap untuk mengundurkan diri karena ini masalah hati. Pimpinan harus tahu masing-masing orang tidak sama, masing-masing orang punya hati yang berbeda," tambah Agus.

Tonton juga video 'Cerita Kasat Sabhara Polres Blitar Pilih Resign Gegara Makian Kapolres':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5