Kisah Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit Penumpas G30SPKI

Puti Yasmin - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 16:50 WIB
Sarwo Edhie Wibowo dan istri
Foto: Repro: buku Kepak Sayap Putri Prajurit/Kisah Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit Penumpas G30SPKI
Jakarta -

Sarwo Edhie Wibowo merupakan salah satu prajurit yang ikut menumpas G30SPKI. Dikutip dari buku 'Sarwo Edhie dan Peristiwa 1965' oleh tim Buku TEMPO, Sarwo Edhie Wibowo merupakan anak dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini. Ia lahir di Purworejo, 25 Juli 1927.

Kisah pemburuan anggota dan pimpinan PKI oleh Sarwo Edhie Wibowo dimulai pada tanggal 1 Oktober 1965. Ia didatangi oleh Mayor Subardi yang tidak lain adalah ajudan Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Di sana, Sarwo Edhie mendengar semua cerita tragis yang menimpa Jenderal Yani. Segera ia mengumpulkan para perwira di rumahnya untuk menghadap secara bergantian. Bahkan, untuk memastikan kekuatan, ia juga menarik seluruh pasukan yang sedang mengikuti latihan upacara peringatan Hari ABRI di Senayan.

Setiba di lokasi, para perwira membentuk pertahan di jalan Jakarta-Bogor. Mereka pun menunggu berita melalui Radio Republik Indonesia dan hasilnya ada Gerakan 30 September atau G30SPKI dan pembentukan Dewan Revolusi yang artinya terjadi kudeta.

Mendengar hal itu, Kapten Herman Sarens Sudiro datang dan membawa surat ke hadapan Sarwo Edhie yang ditulis oleh Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.

Sarwo Edhie Wibowo dan Herman pun menemui Soeharto di Markas Kostrad. Di sana, mereka membahas situasi dan pengamanan tempat-tempat vital. Walaupun belum ada perintah dari Soeharto, Sarwo Edhie meminta agar pasukannya menuju ke Kostrad.

Mereka pun merebut Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menyiarkan berita. Begitu pula dengan Bandara Halim Perdanakusuma yang disinyalir sebagai pusat latihan para anggota PKI.

Setelah proses penemuan jenazah para jenderal di Lubang Buaya, Sarwo Edhie pun bertugas untuk memburu seluruh anggota dan kader PKI. Ia berkeliling Jawa dan Bali berbulan-bulan lamanya.

Keberhasilannya tak lepas dari keikutsertaan pemuda Nahdlatul Ulama (NU). Sarwo Edhie Wibowo diketahui juga melatih para pemuda NU sebagai ujung tombak operasi penangkapan basis-basis PKI.

Sarwo Edhie meninggal dunia di usia 62 tahun pada 9 November 1989. Ia menghembuskan napas terakhir karena sakit stroke yang diidapnya.

Ia meninggalkan istri Hj Sri Sunarti Hadiyah dan empat anaknya, bernama Wrahasti Cendrawasih, Kristiani Herrawati, Mastuti Rahayu, dan Pramono Edhi Wibowo. Jenazah Sarwo Edhie Wibowo dimakamkan di Purworejo, Jawa Tengah.

(pay/erd)