Peneliti LIPI: Tsunami 20 Meter Tak Akan Terjadi Tanpa 7 Asumsi Ini

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 21:25 WIB
Ilustrasi Jalur Evakuasi Tsunami di Bali
Gambar lustrasi rambu-rambu evakuasi tsunami. (Fitraya Ramadhanny/detikTravel)

Seismic gap yang disebut di atas adalah wilayah di sepanjang jalur subduksi (patahan lempeng bumi) yang memiliki frekuensi gempa lebih rendah ketimbang zona yang mengapitnya. Jadi seismic gap diapit oleh zona yang lebih sering diguncang gempa.

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto (Dok Pribadi)Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto (Dok. Pribadi)

Belajar dari pengalaman

Eko mengajak pihak terkait di Indonesia belajar dari pengalaman tsunami di Selat Sunda pada 2018, Palu 2018, dan tsunami Jepang pada 2011.

"Dalam hal tata ruang wilayah pantai ini kita bisa belajar dari yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah daerah di Jepang yang terlanda tsunami 2011. Setelah 2011, wilayah-wilayah yang terlanda tsunami risiko tidak boleh dihuni lagi atau boleh dihuni dengan persyaratan sangat ketat," tutur Eko.

Perlu pula, masyarakat disediakan shelter yang memadai dengan spesifikasi bangunan yang kuat. Untuk masyarakat sendiri, Eko mengimbau agar tidak terlalu mengandalkan sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Soalnya, peralatan itu bisa rusak terkena gempa dan tsunami. Yang lebih penting dari alat adalah kesadaran akan penyelamatan diri kala bencana itu sendiri.

"Misalnya, guncangan gempa boleh jadi merusak berbagai sarpras InaTEWS, termasuk pasokan listrik sehingga InaTEWS menjadi tidak berfungsi. Bencana sangat erat kaitannya dengan attitude/perilaku manusia. Teknologi/Sistem Peringatan Dini hanyalah alat bantu yang tidak terlalu membantu jika perilaku manusianya tidak bisa tertib dan semaunya sendiri," kata Eko.

Halaman

(dnu/dhn)