Korban SUTET dengan Jahit Mulut Datangi DPR dengan Gerobak

Korban SUTET dengan Jahit Mulut Datangi DPR dengan Gerobak

- detikNews
Senin, 16 Jan 2006 06:36 WIB
Jakarta - Empat aktivis korban Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) masih terus melakukan aksi mogok makan dan jahit mulut. Mereka pun akan mendatangi DPR meminta perhatian mereka agar mengintervensi pemerintah mengganti lahan mereka yang tergusur akibat pembangunan SUTET."Pukul 07.00 WIB, kita sudah tiba di DPR. Kita menggunakan gerobak dan obor. Kita bersama sekitar 50 orang," kata kordinator Solidaritas Advokasi Korban SUTET Indonesia Mustar Bona Ventura ketika dihubungi detikcom, Minggu (15/1/2006). Dia menegaskan, hingga kini empat peserta mogok makan dengan menjahit mulut masih bertahan. Memasuki hari ke-18, kondisi terakhir mereka secara fisik semakin memburuk. "Mulut dengan jahitannya bernanah dan berbisul. Mata sudah kuning rabun, wajah pucat, berat badan turun tujuh kilogram dan mengalami perontokan rambut," jelasnya.Bahkan, pada Sabtu (14/1/2006) malam, dua dari empat peserta mogok makan mengalami muntah darah. Namun mereka tetap belum mau menghentikan aksi tersebut. "Terakhir diperiksa dokter tiga hari lalu. Peserta masih ingin bertahan satu minggu lagi," ungkap Mustar.Sebelumnya, salah seorang peserta bernama M Safrudin mengaku menyayangkan sikap rumah sakit (RS) Ridwan Muraksa. Pihak RS telah membuka jahitan yang membentang di mulutnya. Menurut Mustar, pada Minggu (15/1/2006) siang, peserta mogok makan ini dikunjungi oleh aktivis Ratna Sarumpaet. Rencananya, pada Selasa (17/1/2006) Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar juga akan mengunjungi mereka.Empat aktivis korban SUTET melakukan aksi mogok makan dan jahit mulut di halaman bekas kantor PDI, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat. Mereka meminta ganti rugi yang selayaknya dari PT PLN akibat rumah tinggalnya dilalui jaringan listrik berkekuatan ekstra tinggi. Mereka juga mendesak pemerintah untuk mengusut kasus korupsi uang yang menjadi hak rakyat korban SUTET.Mereka adalah Jajang (39) warga Tanjung Sari, Cianjur. Tarman (50), warga Cihanjuang, Sumedang. Nurdin (42) warga Panenjoan, Bandung. Terakhir adalah Romli (39) warga Parung, Bogor. (atq/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads