Etika Politik dalam Al-Qur'an (6)

Etika Suksesi (3)

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Minggu, 27 Sep 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sepeninggal Utsman ibn Affan, Ali bin Abi Thalib tampil melanjutkan kepemimpinan dunia Islam. Ia berkuasa selama kurang lebih empat tahun. Ia meninggal di dalam suasana umat yang sedang terpecah belah. Sepeninggal Ali, kepemimpinan diambil alih oleh Muawiyah bin Abi Sufyan melalui kekuatan pedang. Selanjutnya ia membentuk sistem pemerintahan kerajaan yang suksesinya berlangsung secara turun temurun tanpa melalui proses musyawarah. Demikian seterusnya sampai daulat Umayyah ditaklukkan oleh Daulat Abbasyiah yang juga menganut sistem monarchi.

Dari cuplikan sejarah di atas dapat difahami bahwa Islam sepertinya tidak memiliki suatu sistem yang baku di dalam hal penentuan siapa sumber dan pelaksana kekuasaan, apa dasarnya, bagaimana cara menentukan dan kepada siapa kewenangan melaksanakan kekuasaan itu diberikan, kepada siapa pelaksana itu bertanggung jawab, dan bagaimana bentuk tanggung jawabnya. Pertanyaan seperti ini ditambah dengan pengalaman sejarah Nabi dan para sahabat dan penerusnya mempersulit setiap orang yang akan memikirkan sebuah konsep negara Islam. Sejarah suksesi dalam Islam tidak linial dan tidak tunggal melainkan beragam.


Tidak adanya penjelasan apalagi ketegasan mengenai suksesi di dalam Islam menjadi isyarat bahwa urusan suksesi adalah masalah kontemporer dan terkait dengan obyektifitas perkembangan masyarakat. Masalah suksesi dapat dikategorikan sebagai urusan duniawi yang dalam penyelesaiannya Nabi pernah mengatakan: Antum a'lamu bi umuri dunyakum (kalian lebih tahu menyangkut urusan keduniaannya). Siapa tahu dan kita berharap, Indonesia bisa menyumbangkan model suksesi yang ideal bagi setiap negara, khususnya negara-negara muslim. Kredibilitas pemilu yang akan datang akan ikut menentukan obsesi itu.


Dari pengalaman suksesi Nabi sampai Ali ibn Abi Thalib dapat disaksikan bagaimana pluralnya pengalaman suksesi di dalam dunia Islam. Padahal, masa Nabi dan masa sahabat sering dipersepsikan sebagai peletakan fundasi awal masyarakat Islam. Apa yang terjadi di dalam generasi awal muslim, yakni di masa Nabi dan sahabat, diharapkan menjadi pedoman di dalam berbagai aspek kehidupan dunia Islam pada masa berikutnya. Akan tetapi dalam dunia politik, khususnya pengalaman suksesi pergantian kepemimpinan, samasekali tidak ditunjukkan sebuah pengalaman baku yang dapat dijadikan standar. Silih berganti terjadi pergantian tak satu pun yang sama, artinya setiap pergantian tokoh pemimpin memiliki kasus pemilihannya seniri. Apakah ini isyarat bahwa suksesi tidak mesti terikat pada salahsatu metide, atau harus mengikuti satu-satunya metode? Jawabannya ternyata ialah diserahkan kepada kondisi obyektif dan situasi masyarakat setempat. Jika dalam keadaan darurat menempuh pemilihan darurart dan jika dalam kedaan stabil dan normal mengikuti metode yang sesuai dengan keadaan setempat.


Perbedaan gaya suksesi kepemimpinan Nabi fan para Khulafa al-Rasyidin memberikan istarat bahwa etika politik dalam Islam adalah mengikuti persepakatan para pihak yang terlibat di dalam proses pergantian kepemimpinan. Yang penting ialah ada proses musyawarah dan dialog dilakukan untuk mengeliminir perbedaan atau kemungkinan konflik yang akan terjadi. Hal-hal yang mungkin terjadi dalam, misalnya adanya ketidak puasan penuh kalangan tertentu itu merupakan resiko sebuah kemerdekaan berpendapat dan kemerdekaan untuk berbeda pendapat. Yang penting bagaimana dalam pemilihan kepemimpinan tidak terjadi fitnah yang bisa merusak persatuan dan keutuhan umat. Nabi dan para sahabat mencontohkan bagaimana mengakhiri sebuah perbedaan pendapat dengan penuh akhlaqul karimah. Jangan ada dendam yang tersisah setelah terpilih seorang pemimpin. Pengalaman dan ketegasan Umar ibn Khathab menarik untuk dijadikan pelajaran bahwa menegakkan kedisiplinan dan mengindahkan sebuah kesepakatan harus ditegakkan, sekalipun harus berhadapan resiko.

Baca juga: Etika Sukesi (1)
(lus/lus)