Isu PKI yang Diangkat Gatot Dinilai Tak Laku Buat Pilpres 2024

Dwi Andayani - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 06:55 WIB
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno
Adi Prayitno (Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom)
Jakarta -

PDIP menilai Gatot Nurmantyo (GN) mengangkat soal film G30S/PKI sebagai bentuk pencitraan untuk tiket pilpres 20204. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menilai, isu kebangkitan PKI tak marketable untuk jualan politik.

"Sah saja Gatot bicara isu kebangkitan PKI, apalagi ia mantan tentara yang cukup ati dengan komunis. Tapi kalau untuk jualan politik 2024 tentu tak marketable," ujar Adi saat dihubungi, Kamis (24/9/2020).

Adi menilai, saat ini banyak orang yang tidak percaya dengan kebangkitan PKI. Menurutnya, saat ini masyarakat lebih takut tidak bisa makan dibanding memikirkan isu PKI.

"Orang banyak tak percaya PKI bangkit. Baiknya mainkan isu lain, seperti pemulihan ekonomi di tengah pandemi. Orang sekarang lebih takut nggak bisa makan ketimbang isu PKI," tuturnya.

Namun, Adi menilai tak setiap orang yang berbicara PKI dikaitkan dengan pilpres. Hal ini karena menurutnya untuk maju sebagai capres membutuhkan syarat, terlebih saat ini Gatot dinilai tak memiliki syarat tersebut.

"Kedua, jangan setiap orang yang bicara kebangkitan PKI dikaitkan dengan nyapres 2024. Syaratnya tak mudah harus bisa menembus 20 persen ambang batas presiden. Itu bukan perkara mudah," kata Adi.

"Apalagi Gatot tak punya partai saat ini. Bisa saja Gatot ngomong seperti itu sebagai ekspresi dirinya yang mantan tentara," sambungnya.

Diketahui, Gatot mengangkat soal film G30S/PKI serta mengaitkannya dengan pergantian jabatannya sebagai Panglima TNI. Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno menilai Gatot sedang pencitraan semata.

"Pak Gatot sedang rajin melakukan 'image and brand positioning' di pasar politik, pasar elektoral. Pintu masuknya adalah penekanan pada trauma politik yang dibumbui interpretasi subyektif," kata Hendrawan kepada wartawan pada Kamis (24/9/2020).

Hendrawan menilai hal itu biasa saja dalam dunia politik. Lagipula, menurutnya masyarakat dapat membedakan informasi fakta dan drama.

"Jadi ya biasa saja dalam gelanggang politik. Masyarakat sudah semakin cerdas untuk membedakan mana fakta dan mana drama," ujarnya.

Hendrawan juga menilai Gatot selama ini konsisten melakukan image and brand positioning. Menurutnya, Gatot memiliki tujuan politik tertentu.

(dwia/eva)