Kolom Hikmah

Qana'ah Sebagai Jalan Hidup versus Sifat Rakus

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 05:03 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Kefakiran merupakan sesuatu yang terpuji, namun orang fakir yang rakus terhadap apa yang dimiliki orang lain adalah tindakan yang tercela. Kefakiran hendaknya diikuti sikap qana'ah (rasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki). Maka penuhilah secukupnya kebutuhan hidup yang utama, baik berupa makanan, minuman dan pakaian, dalam kadar yang paling sedikit dan jenis yang paling rendah.

Sikap qana'ah akan terjaga jika engkau melepaskan diri dari angan-angan yang panjang dan kosong. Engkau kembalikan hasrat dan tujuanmu hanya kepada Allah SWT. Terimalah apapun yang telah dianugerahkan Allah padamu dan jangan iri atau menghasratkan apapun yang dimiliki orang lain. Itulah orang fakir yang mulia dan tidak pernah menghinakan dirinya di hadapan pejabat maupun orang kaya.

Pada dasarnya manusia sangat mencintai harta dan terus mencarinya. Manusia tidak merasa puas dengan yang sedikit serta sangat tamak pada harta dan panjang angan-angan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Fajr ayat 20 yang artinya, "Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan." Disambung dengan surat Al-Adiyat ayat 8 yang artinya, "Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan."

Dikuatkan dengan sabda Rasulullah SAW, "Hari kiamat semakin dekat, dan tidak bertambah (kemauan) manusia kepada dunia melainkan semakin rakus, dan tidak bertambah (kedekatan) mereka kepada Allah melainkan semakin jauh."

Panjang angan-angan dan merasa masih hidup lebih lama adalah penyakit berbahaya dan kronis bagi manusia. Jika seseorang terjangkit penyakit ini, maka sikap yang muncul adalah menjauhi perintah Allah SWT, enggan bertaubat, cinta pada dunia, lupa akan kehidupan akhirat yang abadi dan membuat hati menjadi keras. Sehingga susah menerima akan kebenaran.

Orang-orang yang cinta pada jabatan, kekuasaan dan harta. Mereka akan menyesal pada hari kiamat. Semua jabatan, kekuasaan dan hartanya tidak bermanfaat di akhirat kecuali kekuasaan dan jabatan digunakan untuk melayani rakyatnya menuju kemakmuran. Sedangkan hartanya digunakan pada jalan Allah seperti dicontohkan oleh Khalifah Usman bin Affan dan Sahabat Rasulullah Abdurahman bin Auf.

Pada 9 Desember 2020, negeri ini akan mengadakan pesta demokrasi dalam kemasan Pilkada serentak. Jika ada seseorang mengharapkan jabatan Kepala Daerah dengan cara apapun untuk mencapai kemenangan, maka seseorang tersebut berpeluang merusak kehormatannya sendiri. Oleh karenanya kita hendaknya berusaha untuk menghindari sifat rakus tersebut.

Ketahuilah ada 3 macam obat untuk menyembuhkan dari sikap kerakusan dan tamak:

Pertama, Amal. Bersikap sederhana dalam semua urusan dan kebutuhan adalah satu wujud amal. Jalanilah hidupmu dengan kesederhanaan. Tidak perlu menunjukkan suatu identitas apapun yang tentu akan mengeluarkan ongkos yang mahal, seperti menentukan standar jika menginap di hotel, harus bintang 5, naik kendaraan dengan merk tertentu dan lain lain. Siapapun yang berharap sikap qana'ah, engkau harus mengurangi pengeluaran dan mengelola dengan baik urusan dunianya.

Kedua, memperpendek angan-angan. Orang yang berangan-angan biasanya menunjukan rasa antusias yang tinggi. Hakikat angan-angan ini adalah adanya hasrat yang besar untuk merasakan kesenangan yang dialami orang lain. Ketika engkau belum mampu menjaga khayalan dan angan-angan, maka jiwanya akan tersiksa. Oleh karena itu, perpendeklah angan-anganmu.

Ketiga, mengetahui kemulian dan kebaikan sikap qana'ah. Jika engkau faham kebaikan sikap qana'ah, maka engkau akan menjaga diri dari kehinaan meminta-minta dan menginginkan milik orang lain.

Dengan ketiga obat ini, Insyaa Allah kita akan terhindar dan selamat dari kehinaan dan derita jiwa. Semoga kita semua termasuk golongan yang terhindar sifat rakus maupun tamak.

Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016.


*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)