ADVERTISEMENT

Round-Up

Dulu Nobar G30S/PKI Bareng Jokowi, Kini Gatot Ungkit Ganti Panglima TNI

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 06:02 WIB
Din Syamsuddin dan Gatot Nurmantyo menghadiri deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Jawa Barat, Senin (7/9/2020). Deklarasi dilaksanakan di sebuah rumah, Kota Bandung, Senin (7/9/2020).
Gatot Nurmantyo (Foto: Yudha Maulana)

Lebih lanjut, Effendi menilai perintah menonton film G30S/PKI memang tak seharusnya dilakukan. Sebab, kata dia, tidak ada kewajiban bagi TNI, Polri maupun aparatur sipil negara (ASN) untuk menonton film tersebut.

"Tapi logikanya memang tidak juga harus diwajibkan untuk seluruh TNI, Polri, ASN, untuk mereferensi tunggal itu ya," kata Effendi.

Lagipula, menurut dia, tak seharusnya menjadikan film tersebut sebagai referensi tunggal antikomunisme. Mengingat, setiap orang memiliki tafsir masing-masing kala menonton film G30S/PKI.

"Kan yang kita masalahkan kan itu jangan dijadikan referensi tunggal, kan tafsirnyakan terlalu multitafsir orang menonton film itu. Tapi bahwa fakta ada gerakan G30-S, bahwa ada gerakan PKI, ada gerakan yang berlawan dengan ideologi negara itu iya, tapi tidak kemudian rujuknya ke satu film itu," tuturnya.

Selanjutnya, elite PDIP Bambang Wuryanto memberi 'pencerahan' kepada Gatot. Bambang meminta lebih baik Gatot bicara yang lebih penting dan mencerdaskan.

"Yang itu tidak bersifat raising up, menghasilkan yang baik-baik bagi bangsa ini, maka sebaiknya didrop. Jadikanlah itu pembicaraan informal. Pembicaraan publik itu harus hal-hal yang mencerdaskan, masalah yang mencerdaskan bangsa ini. Karena setiap tugas anak bangsa sesuai dengan kesepakatan berbangsa dan bernegara ini di dalam konstitusi UUD 1945 di pembukaan, salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Bambang, di kompleks gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Bambang Wuryanto, yang akrab disapa Pacul, mengatakan Gatot tak perlu mengungkap nama politikus PDIP yang memberi pesan soal suksesinya. Menurut Pacul, tak ada hal yang penting dari situ.

"Nggak usah (Gatot ungkap nama), ngapain gitu loh? Itu kan untuk apa? Kalau aku, nggak usah, nanti dikiranya kita yang begitu bener, kan gitu," ujar Pacul.

Namun, menurut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI itu, yang terpenting adalah bicara yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Pacul khawatir, jika tak memberi hal positif ke masyarakat, justru membuat perpecahan.

"Tapi bagi kita yang penting, itu kan diskusi yang tidak memberikan konstruksi yang kecerdasan baik. Itu kan nanti ujungnya perpecahan anak bangsa," ucap Pacul.

Soal film G30S/PKI, Pacul mengatakan sudah ada ahli sejarah yang dapat menjelaskan. Dia menilai ucapan Gatot tak patut didiskusikan.

"Bahwa soal nonton, kan sudah dijelaskan itu, urusan kesejarahan. Ini kan sudah ada yang menjelaskan, ada ahlinya. Kenapa mesti kayak gini, menjadi sebuah diskusi," sebutnya.


(aud/aud)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT