Round-Up

Sorotan ke Eks Napi Korupsi di Timses Bobby

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 22:05 WIB
Partai Golkar memberikan SK dukungan kepada Bobby Nasution di Pilkada Medan 2020. Golkar susul PDIP, yang lebih dulu berikan rekomendasi pada menantu Jokowi itu
Bobby Nasution (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Mantan narapidana korupsi, Abdillah, direkrut masuk ke dalam struktur tim pemenangan Bobby Nasution-Aulia Rachman di Pilkada Medan 2020. Masuknya eks wali Kota Medan itu di jajaran timses Bobby menjadi sorotan.

Abdillah masuk sebagai salah satu Dewan Pembina. Dia tergabung dalam satu tim bersama Sandiaga Uno, Maruarar Sirait, Sukur Nababan, hingga Sofyan Tan.

"Pak Abdillah adalah tokoh di Kota Medan dan sudah pernah menjadi Wali Kota Medan dan tidak bisa kita mungkiri bahwa di masa pemerintahan beliau banyak terjadi kemajuan dan perkembangan di Kota Medan," kata jubir timses Bobby-Aulia, Meryl Saragih, Senin (21/9/2020).

Meryl mengatakan pemikiran dan masukan dari Abdillah penting. Menurutnya, Abdillah bisa memberi masukan untuk mewujudkan Medan maju dan berkah.

"Oleh sebab itu, kita membutuhkan pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan beliau untuk memberi masukan kepada tim bagaimana bisa menjadikan Medan maju dan berkah," tuturnya.

Abdillah merupakan Wali Kota Medan dua periode, yaitu 2000-2005 dan 2005-2010. Namun jabatan di periode kedua Abdillah tidak genap dijalaninya karena urusan hukum pada 2008. Dia terjerat kasus korupsi yang ditangani KPK, yaitu kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran dan penyelewengan dana APBD. Saat itu, Abdillah dijerat KPK bersama-sama dengan wakilnya yang bernama Ramli.

Abdillah saat itu divonis bersalah dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan, ditambah wajib membayar uang pengganti Rp 17,8 miliar. Vonis itu lebih ringan dari tuntutan jaksa, yaitu 8 tahun penjara.

Hukuman itu dipangkas di tingkat banding hingga dikuatkan pada tingkat kasasi menjadi 4 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan, ditambah uang pengganti Rp 12,1 miliar. Abdillah bebas pada 2010. Kepulangan Abdillah saat itu disambut warga di Bandara Polonia, Medan, Rabu, 2 Juni 2010.

Jubir Timses Bobby-Aulia lainnya, Sugiat Santoso, menilai tak ada masalah terkait bergabungnya Abdillah di timses Bobby-Aulia. Dia mengatakan masuknya nama Abdillah telah diperhitungkan secara matang.

"Nggaklah, kalau hadirnya Bang Abdillah itu yang pertama dia pernah menjabat sebagai Wali Kota Medan. Banyaklah, pembangunannya merata di Kota Medan. Kedua, jaringan Abdillah sangat luas. Sekaligus tempat bertanya Bobby-Aulia di pilkada nanti untuk membangun Kota Medan," tutur Sugiat.

Dia juga meyakini Abdillah bisa mendongkrak suara Bobby. Salah satunya, kata Sugiat, Abdillah punya basis massa di Medan.

"Seluruh nama-nama yang masuk tim kampanye itu sudah dikaji, dihitung, bukan hanya soal suara, soal pengalaman, basis massa, untuk menambah kekuatan tim Bobby-Aulia," ucapnya.

Masuknya Abdillah di jajaran tim sukses Bobby Nasution dicibir oleh Partai Demokrat (PD). Di Pilwalkot Medan, Demokrat mengusung Akhyar Nasution-Salman Alfarisi bersama PKS. Sedangkan Bobby-Aulia diusung koalisi raksasa, yakni PDIP, Gerindra, Golkar, NasDem, PPP, PAN, PSI, dan Hanura.

"Dengan masuknya Pak Abdillah ini, mau tidak mau kalimat-kalimat Bobby yang selama ini selalu nyinggung soal bersih-bersih di Kota Medan telah kehilangan tenaganya. Tak bermakna lagi," kata Wasekjen Demokrat Jansen Sitindaon, Senin (21/9/2020) malam.

Jansen Sitindaon (dok. Pribadi)Jansen Sitindaon (Foto: dok. Pribadi)

Jansen, yang juga Dewan Penasihat Tim Pemenangan Akhyar Nasution-Salman Alfarisi, menilai selama ini Bobby kerap menyinggung Pemko Medan gagal dalam pembangunan karena korupsi. Namun, menurut Jansen, menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu malah merekrut mantan Wali Kota Medan Abdillah, yang pernah terjerat kasus korupsi.

"Karena mereka yang menuding Pemko Medan berpuluh tahun terakhir gagal dalam segala hal infrastruktur, jalan berlubang, birokrasi, termasuk korupsi. Buktinya Pak Abdillah, Wali Kota dua periode yang tersandung korupsi, mereka berdayakan sebagai tim sukses," ucapnya.

Jansen menilai perekrutan Abdillah menjadi bukti bahwa Bobby tak konsisten antara ucapan dan perbuatan. Meski demikian, dia mengatakan masuknya Abdillah merupakan urusan kubu Bobby-Aulia. Jansen pun yakin warga Medan bisa menilai konsistensi antara ucapan dan tindakan Bobby soal pemberantasan korupsi. Dia menyebut tim Akhyar-Salman berfokus menyebarkan gagasan perbaikan di Medan

"Inilah bukti nyata mereka tidak konsisten. Tapi, sekali lagi, biarlah itu jadi urusan tim mereka ya dan biarkan masyarakat di Kota Medan yang menilai mana yang konsisten dengan narasi dan gagasannya di ruang publik. Kami AMAN, walau kecil, hanya dengan dukungan dua partai saja, akan terus jalan dengan gagasan membawa Medan jadi lebih baik dan utamanya semoga bisa terus konsisten antara perkataan dan perbuatan," tuturnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3